Berdoa untuk kebaikan orang yang telah berbuat baik kepada kita mungkin sangat mudah. Tapi mendoakan kebaikan untuk orang yang telah menzalimi kita, mungkin akan sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Semuanya akan menjadi lebih mudah kalau kita meneguhkan niat dan mau berusaha.

Harus diakui, memang tidak mudah mendoakan kebaikan untuk orang yang telah membuat hati kita sakit dan kecewa. Perlu manajemen hati yang luar biasa. Perlu perjuangan untuk berdamai dengan diri sendiri. Kalau sudah terbiasa, Insya Allah semuanya tidak ada yang sulit.

Kita harus ingat, tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada pula manusia yang luput dari kesalahan. Tapi, manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna di antara semua ciptaan Allah di muka bumi. Manusia diberi otak dan akal untuk berpikir, hati untuk merasa, serta segenap panca indera dan anggota tubuh dengan fungsinya masing-masing. Subhanallah.

Tulisan ini terinspirasi dengan seorang sahabat yang tiba-tiba datang di saat saya sibuk dengan rutinitas pekerjaan kantor. Obrolan kami cukup singkat. Namun begitu berkesan dan membuat saya mengambil pelajaran berharga dari pertemuan tersebut.

Sahabat itu sebut saja namanya Hasanah. Ia datang dengan wajah lesu dan kecewa. Hal tersebut bagi saya sudah biasa. Karena terkadang saya dimintai pendapat dan menjadi tempat curahan hati (curhat) bagi teman-teman yang sedang punya masalah. Saya kemudian bertanya, ada apa?

Ia menceritakan dengan kalimat singkat. Namun rasanya tidak etis untuk diceritakan lebih detil. Tapi di akhir ceritanya, saya sedikit kaget. Karena ia mengatakan sesuatu hal yang menurut saya luar biasa. Patut dicontoh oleh siapa pun yang merasa kecewa dan merasa didzalimi.

Di akhir ceritanya, ia mengatakan, Jujur saya kecewa mba sumi. Saya merasa didzalimi. Setelah sampai di rumah kemaren, saya sholat dan saya menangis sejadi-jadinya di sajadah. Kemudian saya memohon kepada Allah, semoga orang yang mendzalimi saya diberi hidayah. Karena hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia,.

Saya sedikit kaget dengan ucapannya. Karena biasanya ia selalu menggebu-gebu dan sangat marah kalau ada hal-hal yang tidak disenanginya. Apa lagi yang membuatnya merasa didzalimi. Tapi Saya langsung mengiyakan apa yang dikatakannya. Meskipun saya sedikit merasa aneh dengan perubahan sikapnya tersebut.

Kali ini saya pikir tidak perlu panjang lebar memberikan nasihat untuk menenangkan hatinya. Saya hanya bilang, apa yang dilakukannya sudah benar. Yang sabar ya... Semoga Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang mendzalimimu, hibur saya kepada Hasanah.

Sambil bercanda, saya katakan, Subhanallah..., ternyata kamu sudah lebih dewasa sekarang. Ia pun tersenyum tipis. Meskipun saya tahu betul di raut wajahnya masih tersimpan rasa kecewa. Tapi sudahlah. Itu tidak begitu penting untuk dibahas.

Yang terpenting bagi saya adalah mengambil pelajaran dari obrolan singkat tersebut. Berdoa untuk orang yang menzalimi kita semoga diberikan hidayah oleh Allah SWT. Semoga orang yang berbuat zalim tersebut bisa berubah lebih baik dan tidak mengulangi prilaku dzalimnya kepada orang lain.

Sebenarnya kita boleh saja mendoakan keburukan untuk orang yang telah menzalimi kita. Sebagaimana firman Allah : "Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa': 148).

Kemudian doa orang yang didzalimi/teraniaya itu tidak ada hijab/akan dikabulkan Allah. Seperti pesan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Mu'ad bin Jabal saat mengutusnya ke Yaman, "Dan takutlah doa orang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara ia dengan Allah." (Muttafaq 'Alaih).

Dalam Hadits yang lain dikatakan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang puasa sampai ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi." (HR. At-Tirmidzi).

Meskipun doa orang yang didzalimi/teraniaya dibolehkan, akan lebih baik dan bijak kalau kita bersabar, memaafkan dan mendoakan kebaikan untuk orang yang telah berbuat zalim kepada kita.

Ada sebuah ungkapan bijak, kita tidak akan pernah mampu merubah niat/keinginan orang lain dan perbuatan orang lain kepada kita, tapi kita bisa menentukan sikap kita terhadap perbuatan orang lain kepada kita.

Semoga kita mampu memenej hati, pikiran dan perilaku kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tidak berbuat dzalim kepada diri sendiri, dan terpenting tidak berbuat dzalim kepada orang lain.*(Sumiati/Kemenag Kota Pontianak)

Penulis Opini: 
Sumiati