Di dunia debu ini, berapa lamakah kita akan melumuri pakaian kita dengan kotoran, batu-batu dan tanah, sebagaimana seorang bocah?

Mari kita tinggalkan debu dan terbang kelangit, melepaskan diri dari kekanak-kanakan menuju kematangan!. (Jalaluddin Rumi)

Syair indah Rumi dalam mutiara Diwan-i-Syams-i Tabriz sengaja penulis angkat untuk mengawali tulisan ini. Syair yang diberi judul “jangan main-main lagi” ini memang menarik bagi penulis untuk dijadikan sandaran dalam tema tulisan kali ini. Semua ini menjadi bahan evaluasi diri bagi kita semua yang seringkali terjerat oleh kepentingan-kepentingan duniawi yang sesaat yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Syair ini mengisyaratkan bagi mereka untuk segera melepaskan diri dari belenggu nafsu duniawi menuju kesucian hati demi kahidupan yang abadi, karena itu dalam syair tersebut Rumi berkata “Mari kita tinggalkan debu dan terbang kelangit, melepaskan diri dari kekanak-kanakan menuju kematangan!”. Rumi seolah ingin menyindir mereka yang kesehariannya disibukkan oleh debu-debu duniawi yang tanpa disadari mengototri hatinya sebagi sikap “kekanak-kanakan”. Karena itu Rumi mengajak kita semua untuk meninggalkan debu-debu duniawi yaitu segala perbuatan yang dapat mengotori hati kita dan semakin menjauhkan kita dari Ridho Allah SWT.

Dengan ini semua, kita bisa mengevaluasi diri kita masing-masing. Mungkin kita telah berusaha mengisi setiap langkah kita dengan amal kebajikan, tapi kita juga tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita mungkin lebih banyak daripada ketaatan kita kepada Allah, lidah-lidah kita mungkin lebih banyak menggunjing, memaki dan mengeluarkan kata-kata yang tidak patut dari pada membaca Al-Qur’an, menyebarkan Asma Allah, atau menghibur hamba-hamba Allah yang lain. Seluruh anggota tubuh kita mungkin lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Allah SWT.

Karena itulah, selagi Allah Tuhan yang Maha Pengampun masih memberikan waktu dan kesempatan kita untuk bertaubat, maka menjadi kewajiban manusia untuk datang kepada Allah membersihkan diri dari dosa-dosanya secepat mungkin. Setelah Allah yang Maha Pengasih menerima taubat kita, maka semua akibat buruk dari dosa yang kita lakukan akan segera dihapuskan oleh Allah. Bahkan Allah juga telah berjanji untuk menggantikan seluruh keburukan kita dengan kebaikan. Allah juga akan menggantikan ketakutan kita dengan rasa damai, kefakiran kita dengan kecukupan, kebodohan kita dengan pengetahuan dan kesesatan kita dengan petunjuk, Sebagaimana firman-Nya: ”Kecuali orang yang bertaubat dan beramal saleh, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan, adalah Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QS. Al-Furqan [25]: 70)

Allah yang Maha Pengampun juga telah memanggil hambanya yang berdo’a dengan sapaan yang sangat mesra ”Ya Ibadi” hai hamba-hambaKu yang sudah melewati batas dalam berbuat dosa. Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya  Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Kembalilah kalian kepada Tuhanmu, berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak lagi dapat membela diri (QS. Al-Zumar [39]:53-54)

Dalam ayat ini Allah tidak memanggil dengan: ”Ya Ibadiyalladzina aqamushalat”-(wahai hamba-hambaku yang mendirikan Shalat), atau ”Ya ibadiyalladzina ’amilushshalihat”-(wahai hamba-hambaku yang melakukan amal shaleh). Yang dipanggil Allah untuk kembali ke pangkuanNya adalah ”Ya ibadiyalladzina asrafu ’ala anfusihim”-(Wahai hamba-hambaKu yang sudah melewati batas). Yang dipanggil Allah adalah kita semua yang sudah menghabiskan usia kita dalam kemaksiatan, yang disapa Allah dengan penuh kasih adalah kita semua yang sudah membebani hidup kita dengan kedurhakaan. Yang diminta Allah tidaklah banyak, janganlah kita berputus asa akan Rahmat Allah. Dosa-dosa kita mungkin terlalu besar, tetapi lebih besar lagi ampunan Allah. Kasih sayang Allah sangat layak untuk menggapai kita meskipun kita tidak layak untuk mendapatkannya, karena kasih sayang allah meliputi langit dan bumi. Wallahu’alam bissawab.

Penulis Opini: 
Sigit Eliyadi