Duduk di Singgasana pelaminan bak raja dan ratu sehari adalah saat dimana kebahagiaan seolah hanya milik mereka berdua..........duduk bercengkrama berdua dan didatangi oleh sanak keluarga, kerabat dan sahabat dari yang paling terkenal hingga yang tak dikenal...melantunkan berbagai kalimat untuk menunjukkan keseriusan niat dan impian yang ingin dirah dalam berumah tangga...

Namun, kebahagiaan dan pesona ini tak dapat dinikmati selamanya, ketika Janur kuning telah jatuh ketanah, ketika keluarga besar telah kembali, ketika tenda-tenda mulai dikemas, raja dan ratu pun harus turun ke kehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan biasa yang menuntut mereka untuk segera menyesuaikan diri....

Indahnya menjadi pengantin baru masih dikenang, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan kemudian mulailah duri-duri kecil mulai bermunculan dalam kehidupan rumah tangga. Duri-duri ini adalah sebagai tolak ukur seberapa besar dahsyatnya cinta sepasang suami-istri. Disinilah diperlukan jiwa-jiwa yang bijak untuk senantiasa menghadapi persoalan rumah tangga dengan arif.

Dalam sebuah filosofi perkawinan dikatakan: “Sebuah perkawinan seperti sebuah perjalanan panjang menggunakan sebuah sampan kecil ditengah laut. Jika salah seorang penumpangnya menggoyangkan perahu, yang lain harus menjaga keseimbangan. Bila tidak demikian, maka mereka akan tenggelam bersama-sama”.

Filosofi diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa sesungguhnya kunci utama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga terletak mampu tidaknya kita menjadi penyeimbang bagi pasangan kita masing-masing. Karena seperti dikatakan orang bijak: “bahwa masalah itu bukat terletak pada masalah itu sendiri, melainkan bagaimana kita menyikapi masalah tersebut”.

Adalah wajar bila pasangan kita marah, bila pasangan kita cemberut, bila pasangan kita diam............. yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menyikapi saat pasangan kita marah, cemberut dan diam tidak membuat masalahnya semakin bertambah besar dan rumit. Kita seringkali berfikir tentang siapa yang salah dan benar, siapa yang baik dan buruk  pada saat  kita sedang beradu argumen dengan pasangan..... yang harus kita perhatikan sesungguhnya bagaimana kita  mampu menjadi penyeimbang bagi pasangan kita masing-masing. Ketika kita dapat menjadi penyeimbang bagi pasangan kita, maka seberapun besarnya kemarahan pasangan kita, kita tidak akan terpancing sehingga persoalan dalam rumah tangga tidak akan membesar. Wallohu A’lam...............

Penulis Opini: 
Kepala KUA Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau