Kemampuan menulis dapat diasah dengan sering menulis, dengan seringnya melakukan aktivitas menulis semestinya kemampuan menulis eseorang akan semakin baik. Dapat diibaratkan jika hanya mengetahu teori tentang menulis seperti seseorang yang ingin bisa berenang diberi teori bagaimana bisa berenang namun tidak langsung dipraktekkan di dalam air. Orang yang diberi atau belajar teori bagaimana menulis mungkin akan faham bagaimana membuat tulisan, baik itu karya ilmiah maupun fiksi, jenisnya, metodenya, serta bagaimana meramu bahan sehingga menjadi sebuah karya tulis yang baik sesuai standar yang telah ditentukan. Sekali lagi kefahaman tersebut belum tentu dapat menjamin menghasilkan sebuah karya tulis jika tanpa praktek yang terus-menerus.

Karya tulis ilmiah populer (artikel atau opini) yang ruang lingkup pembacanya lebih umum-masyarakat luas dari berbagai kalangan-sehingga bahasa dan tatacara penulisannya dibuat agar enak dibaca serta dapat difahami khalayak ramai. Tentu berbeda dengan cara serta gaya penulisan hasil penelitian seperti skiripsi, tesis, disertasi maupun yang dimuat di jurnal-jurnal Perguruan Tinggi atau Lembaga Penelitian. Sehingga kurang menarik serta membosan bagi sebagian orang, karena biasanya bahasanya kaku, apalagi hanya berisi data dan angka-angka.

Menulis dan membaca adalah dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, ia ibarat dua sisi mata uang. Keterampilan menulis selain sebuah pembiasaan juga memerlukan bahan-bahan untuk dituangkan dalam bentuk gagasan, bagi mendapatkan gagasan tersebut diperlukan pengetahuan yang luas dan mendalam untuk dituang dalam bentuk tulisan. Penulis yang ahli dalam bidangnya tentu akan terlihat dari bobot isi tulisannya jika dibandingkan dengan penulis yang hanya mengetahui kulitnya saja. Untuk memperkaya bobot tulisan diperlukan bahan bacaan yang banyak serta berkualitas, biasanya dalam penulisan karya tulis ilmiah penelitian seperti skiripsi, tesis, disertasi maupun jurnal di Lembaga-Lembaga Pendidikan tertentu disyaratkan syarat minimal buku ataupun jurnal yang harus tertera dalam daftar isi. Barangkali hal ini dilakukan agar mahasiswa mau membaca lebih banyak referensi lagi.

Perintah membaca dalam Islam bukanlah sesuatu yang asing, ayat Al Quran pertama yang diturun Allah SWT kepada Rasulullah SAW sebagai pengemban risalah yakni perintah membaca “Iqra”. Sejarah Islam telah membuktikan bagaimana tingginya peradaban Islam berkat keimanan dan keislaman yang teraplikasi dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan, yang mana proses tersebut tidak terlepas dari kegiatan membaca dan menulis dari para ulama maupun cendikiawan muslim pada masa itu. Lalu sejarah mungkinkah berulang ? jawabnya Insya Allah bisa. Tinggal bagaimana kita-umat Islam-mau berupaya bersungguh-sungguh untuk menggapainya, salah satu upaya tersebut adalah dengan membaca-dalam makna yang luas-dan menulis.

 Ada beberapa permasalahan yang biasanya dihadapi dalam menulis ataupun penulisan karya tulis ilmiah baik itu hasil penelitian, tinjauan dan ilmiah popular (tentu ini buat yang baru belajar, kalau yang ahli tentu beda) . Pertama, kesulitan mencari ide penulisan. Padahal ide selalu lalu lalang di kepala kita atau berada sehari-hari disekitar kita. Sebab itu tip yang menyatakan hendaknya selalu membawa alat tulis, jika ide itu muncul langsung dicatat sehingga tidak begitu saja menghilang ditiup angin. Kedua, kesulitan untuk menuangkan gagasan menjadi tulisan. Sering ketika telah berhadapan dengan laptop jadi bingung apa yang harus ditulis, jadi macet semuanya atau gagasan yang sedemikan melimpahnya tetapi seakan-akan habis dalam satu dua kalimat, kalau satu dua paragraf tentu lumayan. Setelah itu macet apa lagi akan ditulis, padahal bahan dikepala masih banyak. Ketiga, kesulitan merangkai kata perkata. Kalimat menjadi kaku, tidak enak dibaca, terlalu banyak kata sambungnya : dan, atau, yang, maupun, bahwa. Keempat, biasanya untuk penulis pemula sering untuk men-judge sesuatu atau seseorang.

Permasalahan-permasalahan di atas Insya Allah dengan sendiri akan dapat diatasi dengan membiasakan menulis dan membaca untuk memperkaya bahan baku penulisan. Dengan membaca karya tulis yang berbobot dari penulis-penulis hebat, dapat dipelajari bagaimana mereka merangkai kata demi kata, bagaimana alur penulisannya ataupun gaya penulisan. Setiap penulis mempunyai gaya penulisan masing-masing, seiring perjalanan pembuatan karya tulis akan membentuk gaya penulisan kita sendiri. SEMOGA BERMANFAAT.

*ASN Kementerian Agama Kab. Sambas

Penulis Opini: 
Riduan