Menjadi orang yang terbaik dalam Islam sebenarnya bukan hal yang sulit. Banyak hadits Nabi SAW yang menyatakan keutamaan berbagai amal perbuatan. Salah satunya adalah sabda beliau berikut ini yang berbunyi: “Dari Utsman bin Affan r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkannya”. (HR. Bukhari, Abu Daud dan At-Tirmidzi). Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang terbaik adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Quran kepada orang lain.

Sedikitnya ada tiga kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya yakni memberi nama yang baik, memberi nafkah dan mengajarkan pendidikan agama kepada putra-putrinya. Untuk yang terakhir, mengapa Al-Quran harus sudah dikenalkan kepada putra-putri kita sejak usia dini? Karena di usia dini ini yang oleh pakar pendidikan disebut dengan usia emas (the golden age) itu, ketika memori masih bersih, daya ingat masih kuat maka kita bisa menanamkan ruh dan semangat Al-Quran ke dalam fikirannya. Yang Insya Allah, pengaruhnya tidak akan pernah terhapus sepanjang hidupnya.

Kita tentu kenal Imam Syafi’i, yang meletakkan dasar-dasar ilmu fiqh. Ia dibesarkan ddalam kondisi kemiskinan dan kepapaan, tetapi ibunya adalah orang yang sangat kaya dengan ilmu dan iman, ibunyalah yang selalu mengalirkan semangat dan arah hidupnya.

Imam Syafi’i sudah yatim sejak kecil, Imam Syafi’i diasuh dengan senantiasa mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari lisan ibunya.  Dan Allah SWT menentukan pada usia 7 tahun ia telah hafal Al-Quran. Pada usia 10 tahun ia telah mempelajari ulumul quran dan pada usia 16 tahun ia telah memiliki kelayakan memberi fatwa. Banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta nasehat dan wejangan di usia yang masih sangat muda belia itu. Sementara kita di usia ini, masih saja merasa tidak punya waktu untuk belajar Al-Quran atau mungkin merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimiliki, bukankah Rasulullah SAW menyatakan tuntutlah ilmu sampai ke liang lahad.

Saat ini kita cukup prihatin dengan pemahaman orang tua tentang pentingnya mempelajari Al-Quran dan pendidikan agama. Ada orang tua muslim yang tidak peduli ketika anaknya belum bisa membaca Al-Quran tapi mereka gelisah dan gengsi manakala anaknya tidak mengikuti les, orang tuanya malu jika tidak mengkursuskan pelajaran tertentu. Namun ada juga yang tidak bangga kalau anaknya berhasil mengkhatamkan Al-Quran, karena hal itu belum dianggap sebuah prestasi dan prestise. Malah yang memprihatinkan dan justru ada, bukan mendekatkan anak dengan Al-Quran dan pendidikan Islam tapi secara tidak langsung menjauhkannya dari Al-Quran. 

Fenomena lain yang dapat kita cermati adalah sebagian besar kita kurang menghargai guru-guru Al-Quran. Memang penghargaan itu tidak selalu berbentuk materi dan mungkin para asatidz tidak mengharapkan kecuali balasan dari Allah, tapi mari kita bertanya, sudah seberapa besar penghargaan kita terhadap mereka dalam mengajarkan Al-Quran kepada putra-putri kita.

Dan khusus kepada saudara-saudaraku, para guru Al-Quran, para guru ngaji, pekerjaan ini sangat mulia dihadapan Allah SWT. Biarkan orang lain kurang memuliakan anda tapi yakinlah bahwa Allah tetap memuliakan anda. Dialah yang memuliakan siapa yang dikehendaki dan Dia pula yang menghinakan siapa saja yang dikehendaki.**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z., M. Pd. I