MTQ Nasional XXVII di Medan Sumatera Utara siap digelar tanggal   4 s.d 13 Oktober 2018. MTQ Nasional kali ini sesuai dengan petunjuk LPTQ nasional  melombakan 7 cabang dengan 22 golongan yang memperebutkan 44 emas, perak dan perunggu, Hal ini memberikan gambaran bagi kita bahwa pelaksanaan MTQ Nasional sampai saat  ini begitu jauh berkembang dari sisi kuantitas cabang lomba, lebih-lebih dibanding dengan pelaksanaan MTQ pertama kali tahun 1968 di Makasar, yaitu hanya memperebutkan dua emas, yaitu tilawah dewasa pria.

Secara umum, cabang dan golongan musabaqah apapun yang dilaksanakan dan akan dilaksanakan dapat diklasifikasikan dalam empat katagori. Pertama, musabaqah membaca, yaitu musabaqah yang menuntut pesertanya untuk manampilkan bacaan al-qur’an yang baik dan benar serta enak didengar. Musabaqah jenis ini terdiri dari 6 golongan yaitu  tilawah dewasa, remaja, anak-anak, cacat netra, tartil dan Qira’at.  Kedua, Musabaqah Menghafal, yaitu musabaqah yang menuntut pesertanya mengafal dengan baik ayat-ayat al-Qur’an. Musaqah ini terdiri dari 5 golongan, yaitu 1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz dan 30 juz,  Ketiga Musabaqah menulis, yaitu musabaqah yang menuntut pesertanya menampilkan tulisan kaligrafi yang baik sesuai dengan kaidah penulisan khat. Musabaqah jenis ini terdiri dari empat 4 golongan, yaitu naskah, hiasan mushaf, dekorasi dan kontemporer.  Keempat Musabaqah Memahami, yaitu musabaqah yang yang lebih menuntut pesertanya untuk menampilkn pemahaman yang baik dan benar dan disertai penyampaian yang menarik Musabaqah jenis ini adalah tafsir, fahml Qur’an, syarhil qur,an dan makalah al-Qur’an.

Membaca al-Qur’an merupakan kebaikan dan mendapat pahala. Banyak sekali hadist yang menyatakan hal tersebut, antara lain; "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi). bahkan hanya mendengarkan atau menyimak bacaan al-Qur’an  itu merupakan suatu kebaikan dan merupakan perintah al-Qur’an, “apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS: Al-A’raf: 204). Allah juga memerintahkan untuk membaca al-Qur’an dengan kaidah yang baik dan benar (tartil) (Q:  ).

Mendengar dan membaca sudah merupakan kebaikan, apalagi menghafal. Menghafal berarti memasukkkan bacaan itu ke dalam pikiran. Dengan demikian bacaan yang dihafal itu dapat dibawa kemanapun pergi. Apabila seseorang sudah hafal ayat-ayat al-Qur’an maka untuk membaca tidak perlu lagi membukanya.. Pada saat peenerimaan wahyu, Rasulullah dan para sahabat selalu menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Keutamaan menghafal al-Qur’an sebagaiman sabda Nabi "Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat." (HR. Muttafaqun alaih)

Menulis adalah kemampuan menyalin atau menulis ulang tulisan sesuai kaidah yang benar. Dalam tulisan arab ada kaidah-kaidah yang baku yang dikuasai oleh penulis agar tulisan benar. Menulis yang paling sedehana adalah menulis dengan benar, dan berikutnya adalah menulis dengan indah.. Tentu saja orang dapat menulis dengan baik harus dimulai dengan dapat membaca. Karena tulisan itu diproduksi dari bacaan. Tulisan yang indah inilah yang disebut khat (kaligrafi). Kaligrafi yang indah dapat dinikamati oleh semua orang walaupun tidak dapat membacanya. Hisyam bin Al Ahkam seorang ahli kaligrafi mengatakan “Tulisan tangan adalah perhiasan yang ditampakkan oleh tangan dari emas murni intelek. Ia juga adalah kain sutera yang ditenun oleh qalam dengan benang kepiawaian.”

Memahami al-Qur’an adalah kewajiban umat Islam, karena Al-Quran berisi nilai dan pengetahuan sebagai petunjuk bagi umat manusia di dunia agar mereka bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat. Allah menurunkan kitab “al-Quran” way of life kaum muslimin dalam perjalanan hidupnya supaya mereka medapatkan petunjuk yang benar sehingga manusia bisa memperoleh kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan kehormatan. Untuk dapat mengungkap apa isi kandungan al-Qur’an secara benar maka kita harus belajar untuk memahami isinya dengan baik. Pemahaman yang baik akan mendorong kepada sikap dan prilaku yang baik sesuai dengan ajaran yang terkandung di dalamnya.

 Ada satu kompetensi lagi yang paling penting untuk diraih dalam pelaksanaan MTQ, namun sering diabaikan, yaitu adalah kompetensi mengamalkan. Kompetensi mengamalkan memang tidak tercantum dalam kegiatan musabaqah, namu hal inilah yang menjadi tujuan utama dari pelaksanaan MTQ. Al-Qur’an itu berisi ajaran dan nilai sebagai pedoman hidup muslim yang harus diamalkan dalam kehidupan, baik yang dalam hubungannya dengan Allah, dengan sesama manusia, maupun dengan alam. Apalah artinya kita dapat membaca, menulis, menghafal bahkan dapat memahami namun tidak mampu untuk mengamalkan. Musabaqah mengamalkan ini tidak dapat dilaksanakan dalam kegiatan MTQ, karena tidak seorangpun di dunia yang dapat menjadi juri, namun musabaqah ini harus terus dikembangkan karena Allah yang menjadi juri terhadap semua pengamalan manusia. Dan tentu saja para pembaca, penghafal, penulis dan pemaham al-Qur’an harus menjadi teladan dalam mengamalkan al-Qur’an.

Musabaqah mengamalkan artinya berlomba-lomba untuk mengamalkan al-Qur’an. Pengamalan adalah inti dari ajaran Islam, karena memang al-Qur’an berisi tentang ajaran dan petunjuk untuk diamalkan. Membaca, menghafal dan menulis al-Qur’an dan memahami al-Qur’an akan mendorong untuk mengamalkannya dengan benar. Al-Qur’an menyatakan“bermusabaqahlah dalam kebaikan” (QS: 2 : 148). Maksudnya bermusabaqahlah kamu untuk menjadi yang terbaik dan dengan cara yang baik. Musabaqah yang benar adalah tidak berarti melupakan kemenangan, tetapi bahwa kemenangan bukan merupakan tujuan akhir yang dikejar.  Kemenangan yang diraih harus dengan cara yang benar. Selamat bermusabaqah.

Penulis adalah Guru MTs Negeri 3 Mempawah

Penulis Opini: 
AHMAD LATIF