Rayap adalah binatang kecil seperti semut, dan mereka sangat  terampil. Sarang-sarang yang kalian lihat di gambar-gambar yang tampak seperti menara tinggi itu dibangun oleh makhluk-makhluk kecil ini (1). Tetapi, jangan salah, ini bukanlah sarang biasa. Rayap membangunnya sesuai dengan perencanaan tertentu. Kamar-kamar khusus bagi rayap-rayap muda, tempat penanaman jamur, dan ratu rayap adalah sedikit contoh saja dari bagian dalam sarang rayap. Lebih penting lagi, sarang rayap juga membangun suatu sistem pertukaran udara khusus. Rayap, yang berkulit sangat tipis, membutuhkan udara lembab. Karena itu, mereka harus mempertahankan suhu dan kelembaban sarang pada tingkat tertentu. Kalau tidak, rayap akan mati.       

         (1)      

Untuk itu rayap mengupayakan agar udara beredar di sarangnya melalui saluran-saluran khusus dan menggunakan air dari saluran bawah tanah yang telah mereka gali. Dengan cara itulah mereka mengatur suhu dan kelembaban sarangnya. Pernahkah kalian menyadari betapa sulitnya mengerjakan hal ini? Pernahkah kalian menyadari bahwa untuk itu rayap harus melakukan berbagai hal yang harus dipikirkan seksama dan secara bersamaan pula? Selain itu, yang telah kita baca sejauh ini baru sebatas kesimpulan dari berbagai hal yang dilakukan rayap. Keistimewaan rayap lainnya adalah cara mereka mempertahankan sarang, yang tingginya mencapai lebih dari tujuh meter. Rayap tahu bahwa ada lubang di dinding sarangnya. Dengan memukulkan kepala ke dinding sarang, rayap penjaga memberi peringatan khusus dengan kode tertentu melalui bahasanya pada seluruh anggota koloni (masyarakat) habitat kumpulan rakyat rayap yang ada di alam dan lingkungan.

Karena mendengar peringatan ini, larva-larva (rayap-rayap yang masih bayi) dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Pintu masuk ke kamar raja dan ratu lantas ditutup dengan dinding yang dibangun dengan cepat. Bagian yang rusak dijaga oleh rayap-rayap penjaga, yang diikuti oleh rayap pekerja yang membawa bahan-bahan untuk memperbaiki dinding kembali. Dalam beberapa jam, wilayah yang rusak telah ditutupi dengan timbunan bahan tersebut. Kemudian, bilik-bilik bagian dalam dibangun. Rayap bertindak atas dasar rencana yang telah dibuat sebelumnya. Setiap anggota koloni mengerjakan tugasnya tanpa menyebabkan kekacauan apa pun. (Artikel Harun Yahya, keajaiban alam)

Kemampuan rayap untuk melakukan semua ini dalam waktu yang sangat singkat adalah bukti adanya komunikasi sempurna di antara rayap-rayap. Namun, ada hal yang jauh lebih menakjubkan tentang rayap-rayap yang membangun keteraturan seperti ini, membangun tempat tinggal seperti gedung-gedung pencakar langit, dan melakukan tindakan pengamanan untuk melindungi koloni mereka. Rayap-rayap itu, ternyata, BUTA. Mereka tidak melihat apa pun saat mengerjakan tugas-tugas ini. Bagaimana makhluk-makhluk ini bisa begitu ahli dan mampu membuat perencanaan seperti itu? Jawaban yang diberikan oleh pakar-pakar evolusi adalah bahwa semua itu terjadi “secara kebetulan”. Jawaban ini tidak benar. Mengapa? Karena bahkan satu hal saja dari keteraturan koloni rayap ini, misalnya saluran peredaran udara, sudah cukup untuk membuktikan bahwa sistem ini tidak bisa terjadi secara kebetulan saja. Pastilah rayap-rayap buta ini tidak dapat memastikan keteraturan yang sempurna ini dan tidak mampu melakukan seluruh pekerjaan ini tanpa cela. Pastilah mereka telah diajari untuk melakukannya oleh Allah SWT melalui kebesaran-Nya dan keagungan-Nya yang maha Luas, dapat mengendalikan segala apapun yang ada di langit dan di bumi tanpa terkecuali sedikit pun, tidak ada yang terlewatkan.

Allah telah menyebutkan beberapa hewan di dalam Al Qur’an dan mengajak kita untuk merenungkan contoh-contoh tersebut. Misalnya, lebah madu dijadikan contoh dalam Surat An-Nahl. Dalam ayat ini, kita diberitahu bahwa lebah-lebah yang menghasilkan madu untuk kita diajari untuk melakukan hal itu oleh Allah. Ayat-ayatnya adalah: Yang artinya: “Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian, makanlah dari setiap (macam-macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya, pada hal seperti itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (QS An-Nahl: 68-69).

Seperti lebah-lebah yang disebutkan di dalam ayat-ayat di atas, rayap hidup menurut cara yang diajarkan Allah dan difirmankan kepada mereka. Allah-lah Yang menciptakan komunikasi sempurna di antara makhluk-makhluk buta ini, mengajari mereka apa yang harus dilakukan, dan menyuruh setiap anggota jutaan rayap yang tergabung dalam sebuah koloni mengerjakan tugas mereka. Rayap bisa menunjukkan tentang keberadaan kematian Nabi Sulaiman dalam Q.S. Saba’: 14 yang artinya : “Maka tatkala kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala iya telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan”. Di dalam tafsir ibnu katsir Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah serta yang lain-lainnya bukan hanya seorang telah menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman ketika meninggalnya bertopang pada tongkatnya, dan berdiri tegak dalam keadaan begitu selama kurang lebih 1 tahun. Ketika tongkatnya dimakan rayap, maka tongkat penopangnya rapuh dan akhirnya jasad Nabi Sulaiman jatuh. Pada saat itulah baru diketahui bahwa ia telah meninggal dunia, dan sebelum itu dalam waktu cukup lama tidak diketahui kematiannya. Disinilah terbukti bahwa jin tidak mengetahui perkara yang gaib.

Dari pemaparan diatas bahwa sangat banyak pembelajaran yang bisa kita ambil walau hanya dari seekor rayap sekalipun, Allah menciptakan segala sesuatu, dan Dia pulalah yang Maha Mengetahui atas segala sesuati itu, sesuai dengan Al-Qur’an Surah Al-An’am :101-103 yang artinya : “(101) Dia pencipta langit dan bumi, bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu. Dia pencipta langit dan bumi. (102) yang memiliki sifat-sifat yang demikian itu ialah Allah Tuhan kalian, tidak ada Tuhan selain Dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah Maha halus lagi Maha mengetahui.  

Segala apapun yang Allah ciptakan di muka bumi ini tidak ada yang sia-sia sekalipun bagi manusia kadang-kadang merasa jijik dengan hewan atau sesuatu tersebut, karena dari sesuatu itu kita bisa mengambil pelajaran (ibroh) darinya. Setiap manusia diciptakan masing-masing dengan potensinya yang ada pada dirinya, hanya kita belum menemukan potensi itu, terus gali dan cari tanpa putus asa, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Tahu, dan tugas kita belajar, bersyukur serta berusaha terakhir berdo’a lalu tawakkal hanya kepada Allah SWT, serahkan semuanya kepada Allah, biarkan Allah saja yang memutuskan, karena sesungguhnya keputusan Allah lah yang terbaik buat kita, bukan menurut selera dan keinginan kita.  Wallaahu a’lam bishshawab.

Penulis Opini: 
Dinna Rahmi, S. Ag