Bismillah…

Saya dapat cerita ini dari group WA. Cerita pendek namun penuh hikmah yang dapat kita jadikan pembelajaran dalam hidup tentang pentingnya ihsan, rasa senantiasa diawasi oleh Allah meski tidak ada yang melihat. Pembelajaran tentang pentingnya kejujuran dalam pribadi teladan serta pentingnya akhlak mulia seorang pendakwah, bukan hanya jago dalam berceramah. Mari sama-sama kita simak cerita berikut ini….

Seorang imam masjid di London biasa naik bus untuk bepergian. Kadang-kadang ia membayar ongkosnya langsung pada sopir bus (bukan kondektur). Suatu kali ia membayar ongkos bus, lalu segera duduk setelah menerima kembalian dari sopir.

Setelah dia hitung, ternyata uang kembalian dari sopir ada kelebihan 20 sen. Ada niatan sang imam untuk mengembalikan sisa kembaliannya itu karena memang bukan haknya. Namun terlintas pula dalam benaknya untuk tidak mengembalikannya, toh hanya uang receh yang tak begitu bernilai.

Umumnya orang juga tak ambil pusing dalam hal begini. Lagi pula, berapa sen pula yang didapat sang sopir karena sisa pembayaran penumpang yang tidak dikembalikan oleh kebanyakan sopir karena hanya receh, artinya sopir tidak rugi kalau ia tidak mengembalikan receh 20 sen itu.

Bus berhenti di halte pemberhentian sang imam. Tiba-tiba sang imam berhenti sejenak sebelum keluar dari bus, sembari menyerahkan uang 20 sen kepada sopir dan berkata, “Ini uang Anda, kembalian Anda ada kelebihan 20 sen yang bukan hak saya.”

Sang sopir mengambilnya dengan tersenyum dan berkata, “Bukankah Anda imam baru di kota ini? Saya sudah lama berpikir untuk mendatangi masjid Anda demi mengenal lebih jauh tentang Islam, maka sengaja saya menguji Anda dengan kelebihan uang kembalian tersebut. Saya ingin tahu sikap Anda.”

Saat sang imam turun dari bus, kedua lututnya terasa lemas dan hampir jatuh ke tanah, hingga ia berpegangan pada tiang yang dekat dengannya dan bersandar. Pandangannya menatap ke langit dan berkata, “Ya Allah, hampir saja saya menjual Islam hanya dengan 20 sen saja.” (al-Brithani wa amaanatul Imam, Ahmad Khalid al-Utaiby).

Sampai di sini, rasanya hati ini tertunduk malu dan bersedih hati. Jauh menilik ke relung hati. Betapa banyak di antara kita (terutama saya) yang menyandang gelar da’i, kiyai, ustadz/ustadzah, muballigh, dan gelar lain yang serupa dengan itu. Ketika di atas mimbar atau di tengah majelis taklim, kita adalah orang yang di pandang sholeh, banyak ilmu dan faham agama.

Namun banyak yang lupa, ketika keluar dari lingkungan tersebut, ketika bergaul dalam keluarga, berakhlak dengan rekan kerja dan bergaul dengan tetangga, terkadang apa yang kita sampaikan saat ceramah, tidak tergambar saat kita bergaul dengan teman-teman kita. Kita ajarkan materi adab bertetangga tapi ternyata hubungannya dengan tetangga tidak baik. Kita berbicara tentang akhlak kepada suami atau istri, tapi ternyata di rumah enggan saling membantu bahkan kasar tutur katanya dan masih banyak contoh lainnya.

Begitu orang lain tidak menerima dakwah kita dengan alasan bahwa kita tidak sesuai lidah dengan perbuatan, maka kita berdalih bahwa harusnya mereka melihat apa yang kita bicarakan bukan siapa yang membicarakan. Meski ini benar, tapi ini harusnya jadi renungan bahwa berdakwah tidak hanya lewat lisan, tapi berdakwah dengan akhlak justru sangat mengesankan.

Jadi, mari kita sebagai penyuluh yang katanya adalah ujung tombak yang langsung menyentuh kepada masyarakat, untuk belajar lagi tentang adab atau akhlak. Mari kita perhatikan bagaimana kita bersikap dan bertindak. Kita tentu tidak sempurna, namun mari berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik akhlaknya di masa mendatang.

Maka ingatlah bahwa berdakwah tak hanya dengan dalil, tapi juga dengan akhlak, agar jangan sampai orang-orang menjauh dari Islam karena perilaku kita yang justru tak sejalan dengan apa yang Islam gariskan. Mari memohon kepada Allah agar Allah mempermudah kita dan memberi petunjuk kepada kita agar mudah dalam memahami agama dan mudah pula dalam mengamalkannya. Aamiin  

Penulis Opini: 
Herlin S.Pdi, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Singkawang