Pernah tidak mengalami hal berikut : Bercerita sesuatu tentang seseorang, tapi ternyata yang sampai ke orang lain malah beda atau dapat bonus ? (Hehehe,,,,seperti dapat barang promo, beli satu dapat 2 gitu ?)

Contohnya begini,,,

Ibu A dengan takdir Allah anaknya terkena demam berdarah. Dia memberi tahu ibu B tetangga sebelah rumahnya karena ibu a harus ke rumah sakit, ia khawatir ada yang mencari saat ia tidak di rumah.

Kemudian ibu B cerita ke ibu C,” Bu, anak ibu A kena demam berdarah lho, kapan nih kita jenguk ? Kalau tidak salah, demam berdarah itu kan disebabkan oleh lingkungan yang tidak bersih kan ya ? banyak genangan air begitu kan ? Bla,,,bla,,,bla,,,”(Ibu B menambah cerita dengan bumbu yang dia uleg sendiri, biar gurih mungkin…)

Ibu C cerita ke ibu D, ”anaknya ibu A kena demam berdarah lho bu, katanya karena tidak jaga kebersihan, banyak genangan air plus sampah begitu di rumahnya. Kasian ya anaknya, gara-gara ibunya tidak jaga kebersihan, anaknya yang menerima akibatnya”. (Bumbu dari ibu C mulai meresap, mantap plus penyedap pula).

Lalu ibu D pun bercerita kepda ibu-ibu yang lain. Entah ditambah dengan bumbu rasa apa lagi. Rasa sapi, rasa ayam dan entah bumbu apa lagi sehingga akhirnya nama ibu A menjadi “harum” seharum ibu Kartini…(Di Kalimat ini, mari baca Istighfar)

Padahal fakta menunjukkan sebaliknya, ibu A itu paling jago urusan kebersihan. Yang pasti takdir Allah juga kan ? kira-kira, nyesek tidak kalau ibu A sampai tahu apa yang di omongkan oleh tetangga nya tersebut ?

Itu sedikit contoh yang pernah saya tahu. Sepertinya masih banyak kisah pilu yang di alami ibu-ibu gara-gara penyakit “suka kasih bumbu”.

Lidah itu tidak bertulang. Mulutmu harimaumu. Ungkapan ini cukup mewakili betapa bahayanya lisan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhâri, no. 6478].

So, hati-hati ya kawan…

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” ( QS Al Isra’: 36)

Semoga bermanfaat

*Penulis adalah penyuluh agama islam Kementerian Agama Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Oleh: Herlin*