Di balik kedatangan santri baru Ahad (15/7/2018) siang kemarin di Pondok Pesantren L-SIBA (Lembaga Studi Islam dan Bahasa Arab) kota Singkawang, ada sosok yang menjadi perhatian bagi saya. Tanpa canggung, demi buah hatinya ia siap sebagai pelayan. Betapa hebatnya i'tikad dan perjuangan seorang ayah, sembari menemani, ia bak buruh memikul koper, tas, dan kardus yang berisi kebutuhan anaknya yang datang untuk menimba ilmu.

Baik buruknya seorang anak, tentu peran ayah sangat vital karenanya sebagai kepala rumah tangga tanggung jawab di pundaknya tidak hanya berjuang mencari nafkah, namun juga berjuang menshalihkan anak-anaknya.

Bukankah Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim).

Selain ibu, menilik perjuangan seorang ayah, tidak ada yang sekuat dan sehebat dirinya. Ia tidak pernah merasa lelah untuk mencari nafkah demi keluarga yang ia cintai. Hujan dan panasnya cuaca bukanlah alasan untuk berhenti mencari nafkah bahkan dalam kondisi kurang sehat pun ia masih berusaha untuk kuat demi mendapatkan sesuap nasi.

Kini tugasnya bertambah, bukan kebutuhan primer saja yang harus disediakan, namun juga biaya pendidikan dan sekolah anaknya. Namun bukan ayah yang baik, bukan ayah yang hebat bila tak mampu memenuhinya. Ia akan melakukan segala daya dan upaya demi buah hatinya, apalagi ini soal agama, soal ilmu, soal proses keshalihan putra dan putrinya yang kelak menjadi kran pahalanya.

Ayah yang baik, jangankan demi pendidikan, jika anaknya ingin sesuatu selain itu ia pasti akan memperjuangkannya dengan cara apapun kendati di luar jangkauannya. Jika kita menghitung berapa liter keringat seorang ayah sedari awal ia mencari nafkah hingga anak-anaknya dewasa, barangkali kita akan tercengang melihat drum-drum terisi penuh.

Perjuangan seorang ayah tidak akan ada hentinya meskipun kaki kanan dan kaki kirinya terasa putus. Sebagai kepala rumah tangga, tanpa peduli usia tua dan fisik lemah, dengan sekuat tenaga dan dengan mengerahkan seluruh kemampuan ia akan terus memenuhi tanggung jawabnya.

Senyum anaklah yang menjadi penyemangat di saat ia merasa lelah, lemah, dan letih karena bagi seorang ayah kebahagian keluargalah penyejuk jiwanya. Dari peristiwa hari itu, dapat saya saksikan pemandangan seorang ayah yang tanpa malu, tanpa gengsi, dan tanpa canggung, dirinya bak pelayan memikul barang kebutuhan putra-putrinya.

Apa yang ditanam, itulah yang akan dipetik. Ia ingin anaknya menjadi anak yang shalih, anak yang berilmu, anak yang kelak menjadi penyejuk hatinya, dan pengadem kuburannya dengan doa mereka.

Melalui pendidikan anak, seorang ayah bisa mengumpulkan tiga hal yang akan ditinggal setelah mati dengan pahalanya terus mengalir untuknya. Yaitu ilmu agama yang bermanfaat, anak sholeh yang selalu mendoakannya dan sedekah jariyah termasuk biaya pendidikan anaknya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala dengannya maka nafkah tadi teranggap sebagai sedekahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Terkait tiga hal di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

Ayah, sekecil apapun usahamu pasti ada ganjarannya, apalagi demi pendidikan anakmu.

(Di sadur dari tulisan ustadz: Marwan AM, Lc dengan penyesuaian)

*Penulis adalah penyuluh agama islam Kementerian Agama Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Herlin