Sebab utama hijrahnya Nabi ke Madinah adalah karena situasi kota Makkah sudah kondusif lagi bagi nabi untuk meneruskan dakwahnya di sana, karena intimidasi dan teror kaum Quraiys. Hijrah dari Makkah ke Madinah merupakan strategi Nabi menghindari kontak fisik, konflik, kekerasan dan intimidasi yang dilakukan kafir Quraisy terhadap umat Islam. Hijrah bukan sekedar bergeser dan berpindah. Hijrah bukan juga sekedar pengertian berubah dan mencari perlindungan semata. Hijrah mengandung pengertian tanggungjawab untuk membangun sesuatu yang berbeda dari kondisi sebelumnya. Hijrah Nabi adalah tindakan memalingkan dari konflik dan kekerasan dengan membangun komunitas Madinah dengan penuh keadaban.

Rasulullah SAW selalu mengedepankan dakwah dengan lembut, kasih sayang penuh dengan kedamaian. Itu semua bertujuan membangun peradaban masyarakat yang damai. Karena hanya dengan kedamaian manusia bisa berpikir jernih dan bisa berkarya untuk membangun negeri. Negeri Madinah dibangun mulai dengan pembentukan kerukunan hidup antar suku, agama dan golongan melalui  suatu komitmen bersama  di bawah naungan konstitusi bernama Piagam Madinah (Shahifat al-Madinah). Piagam Madinah menurut pendapat beberapa ahli diakui sebagai konstitusi tertulis pertama yang mengatur hubungan antar suku, agama dan golongan di dunia. Piagam Madinah ini disusun pada tahun 622 Masehi ( 1 H), jauh sebelum konstitusi Amerika Bill of Rights (1787), konstitusi Perancis Declatation des droits de I’homme et du Citoyen (1795), bahkan mendahului konstitusi  Inggris bernama Magna Charta (1215).

Setelah hijrah Nabi ke Madinah, maka komposisi penduduk kota tersebut menjadi tiga golongan besar, yaitu: golongan Muslim (terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar), Yahudi (terdiri dari banyak suku seperti suku Banu Nadhir, Banu Quraizhah dan Banu Qunaiqa) dan golongan Paganisme (terdiri dari banyak suku kecil dan didominasi oleh dua suku besar yaitu suku Aus dan Khazraj). Disamping heterogen penduduknya, Madinah juga diwarnai dengan konflik horizontal dan perang antar suku dan golongan. Setidaknya tercatat ada dua belas kali perang antar suku Aus dan Khazraj, dan begitu juga perang antar dua suku tersebut dengan kalangan Yahudi.

Nabi Muhammad menginisiasi Piagam Madinah untuk mengatasi konfilik horizontal yang terjadi dan telah berlangusng berabad-abad. Piagam ini merupakan cikal bakal kehidupan bermasyarakat multikultural dan  heterogen  yang dapat  hidup  tenteram  dan  damai  dengan  penerapan  norma,  regulasi,  konvensi  dan konstitusi. Karena faktanya, sejarah hukum pada abad ini sesungguhnya sarat dengan  persoalan diskriminasi,  arogansi,  dan  absolutisme  yang  melekat  pada  etnis-etnis  di  Jazirah  Arab  dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat. Adanya Piagam Madinah yang disepakati tersebut berhasil meruntuhkan polemik yang sudah berlangsung berabad-abad tersebut.

Piagam Madinah ini adalah lembar-lembar wasiat bagi umat manusia, khususnya umat Islam agar dapat hidup berdampingan dengan komunitas lainnya. Kontekstualisai wasiat  Piagam  Madinah yang  dibuat oleh Muhammad  saw, dalam membangun kehidupan  bernegara  menuju hidup  yang  adil,  aman  dan  tentram  sangat urgen dilakukan saat ini di Indoneisa. Kontekstualisai wasiat ini terasa semakin penting di tengah masyarakat Indoensia yang plural. Pluralitas suku, agama dan golongan di Indonesia selain sebagai potensi, juga merupakan kerawanan sosial. Pengalaman menunjukkan bahwa keragaman suku dan agama di Indonesia telah banyak melahirkan konflik horizontal, seperti kasus-kasus yang selama ini terjadi di seluruh Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat.  Piagam Madinah ini memberikan pelajaran penting bagaimana semua golongan membangun tatanan masyarakat yang adil dan manusiawi. Piagam Madinah ini menjadi jendela bagaimana umat manusia membagun sistem peradaban yang tercerahkan, memberi mamfaat bagi semua orang dan menjadi etika kolektif bagi kehidupan bersama. Piagam  Madinah  sebagai  traktat  politik,  spirit  toleransi  menjadi  daulat utama  dalam  melihat  realitas  yang  majemuk. Perlindungan kepada setiap suku, agama dan golongan  mendapat  jaminan  konstitusi, masyarakat lemah dan minoritas dilindungi penuh oleh negara Madinah. 

Pesan utama dalam Tahun baru Hijriyah adalah refleksi diri terhadap sikap dan tingkah laku kita selama ini dalam mengaplikasikan proses hijrah  bagi kerukunan hidup antar suku, agama dan golongan dalam membangun negeri damai. Dan hendaknya semua pihak, baik pemerintah, akademis, TNI, Polri dan seluruh masyarakat perlu lebih cerdas dan kreatif dalam upaya mengembangkan nilai-nilai hijrah dalam kontek masa kini. Bagaimanapun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih tetap relevan dengan kehidupan saat ini. Dan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad mestilah menjadi teladan bagi semua, khususnya umat Islam dalam membangun kehidupan kehidupan toleran antar suku, agama dan golongan. Selamat Tahun Baru 1440 H.

(Penulis : Guru MTs Negeri 3 Mempawah)

Penulis Opini: 
AHMAD LATIF