Di era serba canggih dan digital saat ini, siapapun pasti sangat dekat dengan telepon seluler (ponsel). Kedekatan kita dengan ponsel kadang mengalahkan kedekatan pada orang-orang yang kita cintai disekitar kita, tanpa disadari itu kita lakukan. Hingga tidur sekalipun kita seakan tidak bisa jauh dari benda elektronik yang satu ini.

Kelebihan dari alat telekomunikasi ini sudah tidak perlu dipelajari dan dikenalkan lagi, tetapi bahwa benda yang satu ini menimbulkan efek yang kurang baik juga tidak dapat dipungkiri, sebuah kisah ringkas ini kiranya menjadi renungan kita bersama.

Suatu hari seorang ibu membersihkan tempat tidur anaknya yang berusia pendidikan dasar, saat ibunya membersihkan tempat tidur anaknya ia terbaca dengan sebuah tulisan di kertas yang ada di bawah bantal anaknya. Saat suaminya memasuki kamar anaknya dan menemui isterinya sedang menangis, sang suami bertanya apa yang menyebabkan isteri menangis. Isterinya menjawab: “aku membaca tulisan anak kita, tulisannya adalah AKU INGIN MENJADI SEBUAH PONSEL PINTAR, Orang tuaku sungguh sangat mencintai ponsel pintar mereka. Mereka peduli ponsel pintar mereka, kadang mereka lupa untuk peduli padaku. Bapakku pulang dari kerja, ia lelah tetapi ia sempat untuk mengotak-otak ponsel pintarnya, tapi tidak bagiku, aku juga perlu usapan kepala dari mereka.”

Lanjut tulisan si anak, “Ketika orang tuaku melakukan beberapa pekerjaan penting dan ponsel pintar berdering, dengan segera mereka mengangkat HP-nya, tapi tidak untukku, bahkan jika aku merengek menangis sekalipun. Mereka bermain dan asyik dengan ponsel masing-masing. Mereka berbicara dan mendengat dengan seseorang di ponsel pintar, tapi mereka tidak pernah mendengarkanku, bahkan sekalipun aku mengatakan sesuatu yang penting. Ponsel lebih mereka perhatikan daripadaku aku, karenanya aku ingin menjadi ponsel pintar saja supaya selalu mendapat perhatian orang tuaku”.

Saudaraku yang mendapatkan titipan anak oleh Sang Pencipta, rawat dan jagalah anak-anak kita, bimbinglah dalam tumbuh dan kembang mereka, berikan lingkungan yang kreatif, kondusif dan edukatif, tidak terasa mereka akan beranjak remaja dan dewasa dengan dunianya masing-masing, masa kecil mereka tidak akan pernah kembali lagi, manjakanlah mereka dengan sewajarnya, sayangilah mereka karena pada akhirnya kasih sayang yang kita berikan akan kembali kepada kita pada saatnya nanti.

Bijak dan cerdasnya kita mendidik anak-anak akan melahirkan cahaya mata, penyejuk jiwa dan yang membanggakan orang tua. Kebahagiaan semacam ini tidak hanya akan berdampak dunia tapi juga hingga akhirat. Siapkan anak keturunan kita supaya mereka dapat menjadi saksi atas kebenaran yang telah kita lakukan pada mereka.

Hal ini juga ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia lagi Agung mengangkat derajat seorang hamba shaleh di dalam surga (ke tempat yang lebih tinggi). Kemudian hamba shaleh itu bertanya: “Tuhanku, darimana saya mendapatkan (kemuliaan) ini?” Allah berfirman: “Ini berkat permohonan ampunan anakmu untukmu”. (HR. Ahmad, Thabrani, Baihaqi)

Anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah ponsel berharga, bahkan paling berharga. Berharganya anak tidak hanya sisi saat ini (dunia) bahkan bisa memberikan efek pada sisi masa yang akan datang (akhirat). Dengarkan curhat mereka, usap kepala mereka, perhatikan tumbuh kembang mereka dan doakan. Karena doa menjadi senjata ampuh bagi seorang yang meyakini adanya Zat Yang Maha Dahsyat.

Sejalan dengan hadits di atas, hadits populer yang dikenal tentang putusnya amal manusia kecuali tiga perkara, satu diantaranya adalah doa anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Doa anak kepada Zat Pengabul Doa yang mengharapkan orang tuanya diberikan kesehatan, kemurahan rezeki dan dimasukkan ke surga. Siapa yang tidak menginginkan isi doa anak saleh tersebut? Jika demikian keadaan anak saleh, maka kita selaku orang tuanya juga senantiasa menggelantungkan dan mengharapkan makbulnya doa kepada Allah SWT untuk kemuliaan mereka. Jangan tidak pernah mendoakan anak kita Saudaraku, baik doa yang kita ucapkan maupun minta doa kepada orang lain yang orang itu kita yakini dan tahu kedekatannya kepada Allah SWT.

Nabi Musa as pernah bertanya kepada Allah SWT  tentang siapa yang akan mendampinginya memasuki surga. Allah SWT mengatakan bahwa Musa akan masuk surga didampingi oleh seorang penjual daging kambing. Musa as terperanjat dan heran, apa amalan sang penjual daging kambing sehingga ia nanti akan mendampinginya saat masuk surga. Diikuti dan diamati oleh Musa as mengenai aktivitas keseharian sang penjual daging kambing itu. Pagi membuka barang jualannya, tiba waktu sholat Zhuhur ia berjamaah, saat sore ia pulang ke rumah dan aktivitas semacam ini kata Musa as adalah hal biasa, tetapi mengapa aku dikatakan oleh Allah SWT akan masuk surga bersama penjual daging kambing? Yang membuat Musa as meyakininya adalah ternyata setelah penjual daging kambing tiba di rumah, ia mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan ibunya yang ada dirumah, ibunya yang sudah lanjut usia yang setiap hari dimandikan, diberi pakaian dan disuapi makan minumnya. Setiap selesai melakukan aktivitas itu, sehingga ibunya bersih, kenyang dan merasa nyaman, ibunyapun berdoa, “Ya Allah, Masukkan Anakku Bersama Musa”.

Saudaraku, kisah ini mengajarkan kepada kita, amalan yang rutin terlebih lagi jika dalam rangka membuat senang dan tenang orang tua adalah amalan yang dahsyat, dan anak yang menjad titipan Allah SWT bisa menjadi celah memasuki surganya Allah SWT dan atau sebaliknya.

Mari kita didik anak-anak kita dnegan didikan yang saleh semoga menjadi investasi akhirat yang sesungguhnya. ** (Ruang Kamad, 040518)

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.