Oleh : Johansah, S.Ag.

Kepala MTs. Negeri Sekayam

 

Ketika seseorang melabuhkan hatinya untuk memilih menjadi Profesi Guru. Dan telah menggelutinya dengan penuh dedikasi serta tangungjawab yang tinggi, Maka dipastikan ia telah menikmati alur bagaimana menjadi guru yang sejati. Guru yang sejati selalu berorientasi pada penanaman nilai-nilai moral dan spritual pada peserta didik. Oleh karenanya alangkah indahnya menjadi guru. Sebab menjadi guru penuh dengan kehangatan dan penuh dengan warna-warni, suka dan duka selalu ditempuh. Kadang kala asyik dan kadangkala terusik. Ceria, senyum, tawa, canda, muram, marah dan sebel selalu menghiasi hari-hari. Skenario hidup selalu dilakoni guru dalam menghadapi peserta didik. Sehingga hidup penuh dengan romantika.

Di sekolah, guru akan selalu berinteraksi dengan peserta didik, ada rasa haru yang mendalam, ketika senyum mereka merekah, ketika tawa canda mereka lepas, ketika senda gurau mereka mainkan. Ada kepuasan batin yang tak dapat dilukisan dengan untaian kata. Mereka bagian belahan jiwa yang tak dapat dipisahkan dari hidup seorang pendidik ( guru ). Guru hadir ditengah-tengah peserta didik selalu memberikan solusi. Saat guru berbaur dengan mereka selalu memberikan ketenangan. Guru senantiasa memberikan pencerahan bagi mereka. Ketika mereka sedih, muram, dan sakit, guru akan senantiasa memberikan obat penawar bagi anak didik, agar mereka selalu berseri, riang gembira, tidak ada raut di wajah mereka keruh, dalam menghadapi persoalan-persoalan yang mereka hadapi di sekolah maupun di luar sekolah. Di sinilah peranan guru sangat urgent, senantiasa dibutuhkan bagi peserta didik. Guru bagaikan pelita yang senantiasa menerangi dikala gelap. Guru bagaikan kompas dikala tidak bisa menentukan arah tujuan. Senyum guru, tawa canda guru, keteladanan, dan budi pekerti, merupakan obat penawar bagi peserta didik. Guru selalu siap siaga disaat diperlukan kapan dan dimanapun. Guru selalu hadir dikala suka maupun duka.

Jadi, predikat profesi guru yang disandang, atau digeluti, hendaknya harus di jalani, dinikmati dan disyukuri. Menjadi guru merupakan suatu kebanggaan. Sebab menyandang profesi guru mempunyai konsekuensi logis. Guru hendaknya harus memiliki profesional, jujur, cerdas, kreatif, inovatif, teladan, rendah hati, terus belajar dan berkarya, memiliki akhlak yang terpuji serta segudang kebaikan yang lainnya, yang selalu diaplikasi, dan ditebarkan untuk memberikan manfaat bagi setiap warga sekolah serta lingkungan masyarakat.

Akan tetapi, ketika guru yang suka mengeluh, putus asa dan lemah motivasinya, bahkan ada yang yang mengerutu menjadi guru tidak mudah,menjadi guru makan hati menjadi guru banyak aturan, menjadi Guru, bikin ini bikin itu, harus bikin karya ilmiah: PTK, artikel, tulisan ilmiah, modul, diktatlah, menyediakan medialah, dan banyak tetek bengek aturan yang mengikat guru. Padahal kalaulah disikapi dengan arif dan bijaksana, serta dijalani dengan rileks, tetapi serius dan tertib serta disiplin, serta dipahammi secara seksama, di kerjakan dengan ikhlas, maka semua aturan yang menjadi kewajiban bagi guru tidaklah sesulit apa yang dibayangkan. Jalani, bekerja, terus berkarya, pantang menyerah, maka akan menghasilkan pekerjaan yang akan lebih baik. Bukankah tantangan, hambatan serta halangan merupakan bumbu kehidupan. Ianya bukan menjadi penghambat, penghalang untuk maju, berkarya, terus berkreasi dan berinovasi. Agar menjadi guru yang benar-benar professional. Disenangi peserta didik, disukai teman sejawat dan dicintai masyarakat serta membanggakan bangsa dan negara.

 

A. Perhatian Pemerintah

Profesi guru sangatlah diuntungkan, sebab guru dulu dan sekarang jauh berbeda. Dulu Umar Bakri kendaraannya sepeda ontel, sekarang Umar Bakrie kendaraannya motor, bahkan mobil. Betapa banyak regulasi yang memberikan ruang perlindungan bagi guru dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Dari hal-hal yang menyangkut tentang perlindungan, hak serta tunjangan bagi profesi guru. Dalam menjalankan tugas keprofesionalan, guru berhak mendapatkan penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan, diantaranya meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan khusus.

Berdasarkan hal di atas, ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 16, menjelaskan : Pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara ( APBN ) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah ( APBD ). Pasal 18, Menerangkan mengenai Tunjangan khusus kepada guru yang bertugas di daerah khusus. Tunjangan khusus diberikan setara dengan 1 (satu ) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Pasal 19, menjelaskan bahwa maslahat tambahan merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain. Pemerintah Daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan.

Dengan dikucurkan dana sertifikasi dan tunjangan khusus perbatasan serta tunjangan khusus daerah terpencil merupakan anugerah yang terbesar bagi guru. Hal ini wajib disyukuri. Apalagi semua yang di undang-undangkan untuk kepentingan guru terrealisasi semuanya, maka akan meningkatkatkan kesejahteraan guru. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak melakukan kewajibannya sebagai predikat profesi guru.

 

B. Profesi Guru Sangat Mulia

Profesi guru sangatlah mulia, menurut Imam Al Ghazali guru merupakan profesi yang sangat mulia dan paling agung dengan yang lainnya. Bahkan ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa tinta seorang guru lebih mulia dibandingkan darah para syuhada. Begitu mulianya kedudukan guru, Ahmad Syauki, seorang penyair Mesir, pernah menyatakan bahwa guru itu hampir seperti seorang Rasul. Karena memang pada dasarnya antara Rasul dan guru memiliki tugas dan peranan yang sama. Yaitu, mendidik, mengajar dan membina umat. Betapa tinggi kedudukan guru. Kenapa sedemikian mulianya? Karena guru memiliki pengetahuan. Dalam Islam sangat menghargai orang yang memiliki pengetahuan. Derajatnya akan diangkat oleh Allah SWT. Sebagaimana dalam Hadits Nabi, yang artinya, jadilah engkau sebagai guru, pelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan jaganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga kamu menjadi perusak. ( H.R Abu Daud ).

Guru yang mulia akan senantiasa menyediakan ruang dan waktunya untuk pendidikan. Pendidikan maju, akan berimbas kepada peserta didik. Oleh karenanya guru yang mulia akan senantiasa berorientasi pada keberhasilan anak didiknya, dengan kata lain guru hendaknya melaksanakan tugas dengan penuh dedikasi yang tinggi, tanggung jawab, tekun, sabar, ikhlas serta bersunguh-sungguh dalam mendidik peserta didik. Dengan demikian, maju mundur suatu bangsa terletak pada tanggung jawab di pundak guru. Karena gurulah yang langsung bersentuhan dengan dunia pendidikan. Sehingga dapat menciptakan generasi yang hebat, generasi yang berkualitas, dan generasi yang benar-benar menjunjung harkat martabat suatu bangsa.

Jika direnung dan dipikirkan, orang yang paling berjasa dan mempunyai andil dalam keberhasilan hidup ini setelah orang tua adalah guru. Jasa seorang guru tak terbilang dan tak tertandingi. Tak ternilai harganya. Guru pahlawan sejati. Guru kusuma Bangsa.

 

Johansah, S.Ag.

No. HP. 082352504904

 

Penulis Opini: 
Johansah