Tahun ini,  yang dimulai pada tanggal 1 juni 2017 diperingati Hari Lahir Pancasila sebagai Libur Nasional. Permulaan peringatan Hari Lahirnya Pancasila tahun ini bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan 1438 H. Kemudian apa gerangan yang menjadi menarik untuk dikaji dalam renungan Ramadhan kali ini ? Paling tidak ada makna dan nilai filosofis yang dapat diambil faedahnya, yaitu  sesungguhnya Pancasila bersumber dari ajaran agama khususnya Islam dan Pancasila sebagai falsafah hidup muslim Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.

Sungguh ini telah terbukti dalam sejarah peradaban Islam Indonesia. Bung Karno sebagai pencetus Pancasila adalah bukti kongkritnya, bahwa Beliau seorang founding-father  yang beragama Islam tulen.  Patutlah kiranya kita kupas sila persila dari Pancasila dalam pandangan agama khususnya Islam. Pancasila bersumber dari ajaran agama khususnya Islam dan sebagai falsafah hidup muslim Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, ini tak dapat dipungkiri bahwa nilai-nilai Pancasila dalam sila dan butir-butirnya dari sila pertama sampai sila kelima terkandung nilai religius-agamis.  

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan keesaan Tuhan termaktub dalam kitab Ilmu Kalam sebagai Tauhid Rubbubiyah. Al-quran surah al-ikhlas merupakan dalil naqli (besandar kitab suci) begitu juga sunnah rasulullah.  Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, nilai kemanusiaan dalam agama dijunjung tinggi. Dalam sejarah peradaban Islam membebaskan perbudakan  sehingga manusia merdeka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kebebasan berfikir dan tidak ada paksaan dalam beragama.  Manusia makhluq Allah yang ia diberi kebebasan untuk memilih, namun amalan terbaik dan ketaqwaannyalah manusia sempurna terpilih disisi Allah SWT.

Sila ketiga Persatuan Indonesia, Islam selalu menjaga persatuan dalam kebhinekaan. Bhineka Tunggal Ika bahwa manusia dalam sebuah keniscayaan berbeda, manusia diciptakan jenis lelaki dan perempuan, bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal (taaruf) atau memiliki kearifan individu dan sosial (Al-quran surah Al-hujurat, 49 ayat 13 ). Selanjutnya Islam selalu memegang teguh persatuan dan kesatuan dan senantiasa menghindari keruntuhan bangsa dan negara dengan kata semboyan, jangan bercerai-berai seperti dalam al-quran surat Ali Imran ayat 103. Tentu, sudah banyak pula dicontohkan oleh para Sahabat Nabi pada masa  kejayaan peradaban Islam.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan/ perwakilan, ini dalam sejarah peradaban Islam dicontohkan dalam masyarakat madani (social-socety). Piagam madinah yang digagas oleh Rasulullah SAW merupakan contoh kepemimpinan dalam Islam. Politik Islam (dalam Fiqih As-siyasah), adanya kerukunan beragama dan sosial, Rasulullah sebagai pemimpin negara dan agama melindungi dan mengayomi kepentingan bersama penganut agama Islam, Yahudi, Nashrani bahkan Majusi  dan agama serta kearifan budaya dan peradaban dunia lainnya.

Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.  Kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah jaminan sosial yang negara dan pemerintah wajib hadir dan mengambil  kepedulian yang utama bagi kepentingan rakyat. Pada zaman Rasulullah dan sahabat telah memberikan rasa keadilan dan kemakmuran dengan mengambil zakat, infaq dan shadaqah, hibah dan wakaf untuk membantu kaum yang kurang mampu (fakir-miskin dan asnaf lainnya). Ekonomi Islam menumbuhkan kepedulian sikaya terhadap simiskin. Sebaliknya, kecintaan sosial dan doa simiskin terhadap sikaya.

Inilah sesungguhnya patut kita renungkan di Bulan suci Ramadhan ini, bahwa Pancasila sebagai falsafah hidup muslim dalam berbangsa dan bernegara adalah perjuangan panjang ulama dan pejuang muslim serta eksponen lainya untuk memerdekakan Indonesia dari belenggu penjajah. Tentunya bersama-sama dalam koridor kebhineka-tunggal-ikaan dalam kemajemukan dan keberagaman, agama, adat-budaya, suku, pulau, kearifan lokal individu dan sosial serta potensi lainnya. Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila, semoga NKRI tetap jaya sepanjang zaman, amiin.***   

Penulis Opini: 
H. Azhari, S.Ag, M.Si / Ka Subbag TU Kankemenag Kota Singkawang