Oleh Sholihin H. Z., M. Pd. I

(Alumni Program Magister IAIN Pontianak)

 

Syahrul ‘ilm adalah bulan ilmu. Istilah ini disematkan kepada sayyidusy syuhur, Ramadhan, banyak sebab mengapa istilah ini sangat tepat diberikan pada bulan yang penuh dengan kemuliaan, bulan yang penuh keberkahan dan bulan diturunkannya pedoman hidup manusia.

Dalam al-Quran disebutkan kata-kata ‘ilm dalam berbagai derivasinya yang terulang sebanyak 854 kali, banyaknya kata ini menunjukkan pentingnya ilmu sebagai jalan untuk mengenal Penciptanya setidaknya memudahkan seseorang untuk mencapai tujuannya. Akan beda cara berfikir orang yang berilmu dan tidak, akan beda cara kerja orang yang berilmu dan tidak. Sehingga secara jelas disebutkan dalam al-Quran bahwa tidaklah sama antara yang memiliki pengetahuan dan yang tidak memiliki pengetahuan.

Dalam bahasannya yang lain, Quraisy Syihab menyebutkan bahwa pengulangan perintah membaca yang terdapat dalam QS. al-Alaq (QS. 96) sebagai wahyu pertama bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik (dengan nama Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih itu-itu juga. Demikian pesan yang dikandung Iqra' wa rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah).

Allah SWT menyediakan Ramadhan sebagai bulan introspeksi, Dia juga menyediakan Ramadhan sebagai bulan training, yang dengannya diharapkan kita aktif untuk memaknai Ramadhan, karena sesungguhnya keberhasilan pendidikan Ramadhan bukan pada program dan aturan yang telah disetting Allah SWT, tetapi sejauh mana kita mau melibatkan diri untuk aktif menghidupkan Ramadhan, sejauh mana kita aktif mendapatkan kemuliaan Ramadhan, sejauh mana kita mau mengambil apa yang menjadi spirit Ramadhan, jika tidak, maka Ramadhan akan berakhir begitu saja, Ramadhan akan berlalu tanpa makna dan ia akan tinggal cerita kosong dengan konten cerita tentang pakaian baru, asesoris rumah, tour dan sebagainya.

Komaruddin Hidayat dalam bukunya Agama Punya Seribu Nyawa (2012:33) memberikan ilustrasi menarik. Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam al-Quran sejatinya adalah media untuk menemukan jati diri dengan potensi kebaikannya, melalui Ramadhan diharapkan akan jelas mana petunjuk jalan kebenaran dan kebaikan, ia juga sebagai media membentuk mental pelakunya. Sebuah petunjuk, menurut Komaruddin Hidayat, baru akan betul-betul berfungsi jika syarat-syarat berikut ini terpenuhi yaitu: (1) sebuah petunjuk akan berfungsi jika orang-orang disekelilingnya  mampu menangkap pesan dari petunjuk itu. Jika orang itu tidak dapat menangkap petunjuk dan pesan itu maka petunjuk itu tidak akan berfungsi sebagaimana harapan yang diinginkan. Dari sisi inilah, pengetahuan akan sesuatu sangat diperlukan, karenanya Al-Quran diturunkan dalam bahasa yang mudah difahami (bahasa manusia) seperti disebutkan dalam Q.S. Ibrahim/14:4; (2) sebuah petunjuk adalah arah yang harus diikuti, ibarat jalan raya yang diberi tanda atau petunjuk lalu lintas. Setiap orang faham dengan tanda itu, belok kanan atau belok kiri jalan terus dan sebagainya namun orang tersebut tidak mau taat dengan petunjuk itu maka ia tidak akan mengantarkan orang tersebut pada sasaran yang dituju. Sebuah sikap kesadaran akan hukum berlalu lintas menjadi pentingnya karenanya; (3) petunjuk dapat diibaratkan sebuah resep dokter, dengan berbagai ketentuan dan syarat untuk penyembuhan maka si pasien harus mengikuti arahan sang dokter, jika tidak, maka penyembuhan tidak akan berjalan dengan baik dan target penyembuhanpun jauh dari yang diharapkan. Dari hal ini, sikap disiplin mengikuti petunjuk diperlukan.

Berbagai program Ramadhan yang ditayangkan di media cetak maupun elektronik seakan-akan ingin mencelup jiwa kita untuk masuk secara kaffah dalam suasana Ramadhan dan memang itu hendaknya yang menjadi target kita sebagai pelakunya. Ilmu bertebaran di Ramadhan ini dan itu setiap tahun, semua media berlomba-lomba menyajikan siaran tafaqqahu fiddin (memperdalam ilmu agama), hal ini dapat dilihat sejak sahur, siang, menjelang berbuka, sesudah berbuka, adanya tambahan durasi tayangan dan sebagainya. Belum lagi program kultum dan kuliah subuh di masjid dan musholla. Sungguh luar biasa, sangat terasa sekali bahwa media Ramadhan mendadak menjadi media yang peduli dengan ilmu, media yang cenderung Islami, dan media yang sangat memperhatikan “makanan rohani” bagi pemirsanya. Hanya saja yang kita saksikan adalah selesai Ramadhan maka selesai juga suguhan keilmuan khas Ramadhan ini. Sangat tidak mewakili sebagai bekal untuk 11 bulan yang akan datang jika tidak ada keinginan kuat untuk meneruskan pelajaran Ramadhan.

Apapun dan bagaimana Ramadhan, hingga bagaimanapun cara orang menyikapinya ia tetap mulia dan agung. Hanya pelakunya yang cerdas yang dapat mengambil kemuliaan Ramadhan sehingga adanya peningkatan ibadahnya, tambah ilmunya, langgeng tadarusnya. Mengapa kita tidak berteman dengan makhuk-Nya yang agung supaya kita ikut menjadi bagian yang dimuliakan oleh Pemiliknya? Kemuliaan Ramadhan dapat diketahui dengan ilmu yang bertebaran di sepanjang bulan ini dan mudah-mudahan kita ikut mulia dengan sebab memuliakan Ramadhan. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z., M. Pd. I