Ramadhan telah tiba dan kita adalah orang-orang yang diberi Allah nikmat yang sangat besar karena diizinkan untuk memasukinya. Tentunya dengan harapan begitu Ramadhan meninggalkan kita, dosa kita telah terampuni.

Bagaimana perasaan kita ? Senang ? Jelas karena Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Pasti rata-rata mengatakan begitu. Namun tidak jarang, baru memasuki 6 atau 7 hari Ramadhan, tubuh sudah terasa lemas tak berdaya.

Padahal Ramadhan masih panjang dan makin ke ujung harusnya makin memerlukan tenaga ekstra. Apalagi target masih segudang: Puasa full, khatam alqur’an 2 kali, i’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan, sedekah setiap hari dan lain-lain.

Namun baru 7 hari, puasa sudah terseok-seok, tilawah atau membaca Alqur’an keteteran, tarawih sudah 1 malam bolong, sedekah ada yang kelupaan dan pesanan kue serta jahitan mulai menumpuk.

Mengapa bisa jadi begini ?

Inilah dampak menyambut Ramadhan tanpa persiapan dan pemanasan.

Saudaraku...jika Ramadhan itu kita ibaratkan seperti lomba matematika tingkat internasional, lombanya dengan peserta kelas berat semuanya dan hadiahnya sangat berharga, tentu kita harus melakukan persiapan: Mengerjakan latihan soal serta menjaga stamina agar tetap kuat. Jika tidak, kita bisa kalah telak sebelum berperang.

Begitu juga dengan Ramadhan, kita perlu latihan sebelum memasukinya sehingga tidak akan terjadi “Baru hari ke 7 sudah kelelahan dan ngos-ngos-an”.

Apa saja persiapan yang harus dilakukan ?

Pertama: Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban karena kalau tiba-tiba langsung berpuasa sebulan penuh, tentu tubuh akan terkejut. Bisa-bisa dampaknya tidur melulu karena stamina tubuh yang lemah.

Kedua: Memperbanyak membaca Alqur’an karena jika letak al qur’an saja lupa dimana menyimpannya, apalagi ibu-ibu yang memiliki banyak anak dengan segudang pekerjaan rumah, harusnya sudah latihan sebelum Ramadhan tiba. Jika masuk Ramadhan baru coba-coba buka alqur’an, tentu target khatam akan keteteran karena belum terbiasa.

Ketiga: Memperbanyak sholat malam.

Jika 2 rakaat sholat malam saja sulit untuk kita kerjakan, tiba-tiba langsung tarawih 8 rakaat ditambah witir, apalagi setelah berbuka dengan aneka hidangan, boleh jadi yang tersisa pada saat tarawih hanyalah rasa ngantuk setelah malamnya sibuk menyiapkan sahur.

Keempat: Latihan melakukan kebaikan sekecil apapun karena kalau tidak dibiasakan, kita akan kesulitan untuk membiasakan diri di bulan Ramadhan. Ibarat pepatah “Alah bisa karena biasa”.

Kelima: Mengulang kembali pelajaran atau ilmu seputar Ramadhan. Bulan Ramadhan datang setahun sekali. Harusnya awal-awal lagi sudah dipelajari serba-serbi Ramadhan. Jangan hari ke 7, baru ketahuan buku panduan Ramadhannya dimana.

Yang harus diingat lagi, Ramadhan sebulan itu harusnya tenaga kita full karena semakin ke ujung, medannya semakin menanjak. Malah, 10 hari terakhir adalah puncaknya yaitu i’tikaf untuk meraih lailatul qadar. Namun  biasanya makin ke ujung Ramadhan, cobaannya makin kuat: Membuat kue, belanja baju baru, buka bersama  dan lain-lain.

Ayolah...untuk urusan dunia saja kita persiapan maksimal, belajar mati-matian, bergadang habis-habisan,,,kenapa untuk urusan kehidupan yang kekal kita malah santai-santai saja ? Ingatlah hadits berikut “Berapa banyak orang yang berpuasa, ganjaraannya hanya lapar dan dahaga” (HR. Tabrani).

Semoga kita tidak termasuk dalam hadits di atas ya saudaraku. Aamiin.

Penulis adalah penyuluh agama islam Kementerian Agama Kota Singkawang

Penulis Opini: 
Herlin