Tepat tanggal 14 Oktober 2015, kita akan memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 H. Dalam sejarah Islam, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah (Kota Yatsrib) ditetapkan sebagai permulaan kalender resmi umat Islam, sehingga kita memiliki kalender Hijriyah.

Tak sebatas itu, bahkan hijrah ke Madinah, secara historis nabawiyah menjadikan adanya dua periode dalam perjalanan risalah kenabianyaitu Periode Makkah (qoblal hijrah) dan Periode Madinah (badal hijrah). Hijrah menurut istilah yang lazim (masyhur) adalah bermakna pindahnya Rasulullah SAW dan para sahabat dari kota Makkah al-Mukarramah (kota penuh kemuliaan-karomah) ke Madinah al-Munawwarah (kota yang penuh cahaya terang benderang).

Secara bahasa, hijrah berarti perpindahan dari suatu tempat atau suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Sehingga, hijrah bisa saja dalam bentuk prilaku, ideologi, moral, hukum, kebudayaan, peradaban dan lain sebagainya. Menurut ulama tarikh, Hijrah dalam Islam adalah jalan menuju taghyir (perubahan), nasr (kemenangan), izzah (kemuliaan), dan siyadah (kekuasaan).

Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya telah melakukan hijrah untuk melindungi akidah dari ancaman kekufuran dan menuju perubahan masyarakat sekaligus mencapai kemenangan menegakkan ajaran Islam dan membina masyarakat madani sebagai tonggak pertama pembentukan peradaban dunia Islam.

Refleksi peringatan Tahun Baru Islam kali ini,semoga kita tidak terjebak hanya dengan acara seremonial belaka. Tentunya kita prihatin terhadap problema umat Islam kekinian, seperti negara Palestina, Suriah dan negara timur-tengah lainnya.Problematika ini hendaknya menjadi agenda besar umat Islam baik regional, nasional dan internasional yang patut dicarikan solusi (jalankeluar) baikmelaluikekuasaan (politik), ceramah, seminar lokakarya (pendidikanilmiah), dan kegiatan amal bakti sosial (aksi kongkrit) dan lainnya.

Pertama,sumberdaya manusia muslim melalui pendidikan dan kesehatan. Pendidikan umat melalui jaringan pendidikan Islam dunia memberikan beasiswa prestasi sekolah keTimur Tengah, Eropa dan Amerika serta negara maju lainnya seperti Jepang. Islamic center skala regional, nasional dan internasional. Kesehatan umat dengan adanya jaringan rumah sakit Islam dunia memberikan pendidikan dan latihan serta modal bangunan gedung rumah sakit yang modern.

Kedua, kemiskinan dan keterbelakangan umat. Ekonomi umat Islam sesungguhnya telah dimiliki negara muslim seperti negara-negara di Timur Tengah dengan potensi minyak dunia. Mereka rata-rata negara petro dollar dunia. Kita belum menguasai pasar karena teknologi dan marketing belum berpihak kepada negara muslim. Kita masih digolongkan pada negara dunia ketiga yang sedang berkembang. Jadi selama ini kita bukan produsen akan tetapi masih negara konsumen.

Potensi ekonomi ini tentunya dengan adanya modal usaha dari dana ventura negara kaya muslim seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Arab Saudi dan negara kaya lainnya. Bank Dunia Islam sangat berperan penting dalam membantu permodalan usaha mikro dan makro umat Islam di dunia ini. Dan ini tentu langsung menyentuh umat Islam di negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Asia Tenggara yang penduduknya mayoritas muslim.

Ketiga,problema yang masih berkepanjangan dan pelik sekali adalah masalah aqidah dan ukhuwah umat Islam. Kita bagaikan sebuah layar bahtera yang terkoyak-koyak. Arus globalisasi yang menghantam aqidah dan ukhuwah Islamiyah. Banyak aliran sesat dan nabi palsu, bahkan Islam dicap teroris dan ISIS di Suriah, perang Yaman, bom Kurdi di Turki dan negara timur-tengah lainnya. Image miring ini menjadi agenda besar umat Islam kedepan. Perlu adanya dukungan agar negara Palestina merdeka dari zionis yahudi yang sudah diakui oleh dunia dalam Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

Kita patut mendudukan persoalan ini kepada dunia luar dan lintas agama. Islam kasih sayang terhadap alam dan makhluk hidup di dunia ini. Kesadaran spritual dan kesadaran pluralisme, tidak anarkis terhadap hak asasi manusia.

Sesungguhnya hidup ini sebuah skenario besar hanya untuk menguji sejauhmana keimanan dan ketakwaan terhadap Sang Khaliq Allah SWT, sebagaimana keimanan terhadap makna hijrah Rasulullah SAW yang meliputi dimensi lahiriyah dan bathiniyah.***

(Penulis adalah H.Azhari,S.Ag,M.Si Ka.Subbag TU Kemenag Kota Singkawang)

Penulis Opini: 
H.Azhari,S.Ag,M.Si