Jujur menjadi kata kunci untuk sebuah perubahan. Tanpa ada kejujuran mustahil perubahan bisa terjadi. Jujur kepada diri sendiri serta jujur kepada orang lain akan menjadi sesuatu yang sulit kalau tidak diniatkan dari hati. Karena tanpa disadari jujur akan membuat seseorang menjadi bertanggung jawab dengan apa yang telah diperbuatnya.

Hal paling kecil sekalipun, jika dilakukan tidak dengan jujur maka akan berpengaruh terhadap sebuah perubahan yang diinginkan semua orang. Bahkan ketidakjujuran/alias kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya, yang pada akhirnya akan menumpuk dan menjadi bom waktu untuk si pelaku itu sendiri.

Contoh kecil saja, kebohongan yang dilakukan oleh seorang pegawai karena terlambat datang. Ia mengatakan, terlambat karena harus mengantar anaknya ke sekolah terlebih dahulu. Pada hal ia kesiangan bangun dan malu untuk mengatakan yang sejujurnya. Keesokan harinya, ia ditanya oleh temannya yang lain yang kebetulan juga memiliki anak di sekolah yang sama. Sang teman bertanya kepada pegawai yang berbohong tadi, mengapa anaknya terlambat? Pegawai yang terlanjur berbohong tadi berpikir keras untuk mencari alasan lainnya. Sehingga ia mengatakan, karena jalanan macet, dan seterusnya.

Orang yang tidak jujur, suatu hari akan menerima akibat dari ketidakjujurannya. Ibarat pribahasa, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh ke tanah juga. Artinya sehebat apa pun orang yang tidak jujur, suatu hari ia akan jatuh di dalam ketidakjujuran yang telah diciptakannya. Semua orang akan mengetahui kebohongan yang dilakukannya. Sehingga orang memberikan lebel khusus kepada orang tersebut sebagai orang yang tidak jujur.

Kalau bahasa dakwahnya, orang yang tidak jujur atau orang yang suka berbohong itu sama dengan orang munafik. Sebuah hadits yang artinya: Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga. Pertama, jika berbicara ia dusta/bohong. Kedua, jika berjanji ia ingkar. Ketiga, jika dipercaya ia khianat.

Orang munafik itu biasanya selalu terlihat paling baik. Karena ia selalu pandai menutupi ketidakjujurannya dengan tutur kata manisnya. Apa lagi kalau orang tersebut seorang berpengaruh yang memiliki jabatan misalnya. Ia selalu memberikan nasihat yang baik dengan sentuhan bahasa agama. Pada hal ia sendiri adalah pelakunya. Suka berdusta dan mengatakan sesuatu yang ia sendiri mengetahui apa yang dikatakannya itu tidak benar.

Orang yang tidak jujur menandakan mental orang tersebut bermasalah. Karena mental tidak jujur akan menggerogoti hati dan pikiran orang tersebut. Dari hal yang paling kecil sampai hal yang besar, karena sudah terbiasa tidak jujur, maka ia akan merasa biasa saja ketika melakukan hal-hal menyimpang. Ia akan punya seribu satu alasan untuk menutupi ketidakjujurannya tersebut. Sehingga setiap prilakunya akan ditutupi dengan prilaku tidak jujur lainnya.

Berbeda dengan orang yang terbiasa jujur. Jika melakukan penyimpangan, maka ia akan merasakan bimbang dan takut kalau apa yang dilakukannya diketahui orang lain. Karena ia pasti akan bingung mencari alasan apa untuk menutupi ketidakjujuran yang telah dilakukannya. Belum lagi mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT sang pencipta, yang maha mengetahui dan maha melihat dengan apa yang diperbuat oleh hambanya.

Gerakan Nasional Revolusi Mental saat ini menjadi hal yang terus didengungkan oleh pemerintah Indonesia. Bahkan Kementerian Agama menjadi institusi terdepan mendukung gerakan tersebut. Karena dianggap menjadi solusi jitu untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Sampai hari ini pun Kementerian Agama di seluruh Indonesia diminta untuk terus melakukan Revolusi Mental di seluruh jajarannya.

Sebuah gerakan nasional yang sudah seharusnya dan sepantasnya menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk berubah menjadi lebih baik. Berubah menjadi lebih hebat. Berubah menjadi yang terdepan dengan keteladanan. Serta menjadi yang paling jujur dengan ilmu dan keimanan yang melandasi setiap gerak langkah kita sebagai aparatur Kementerian Agama.

Dengan kejujuran, setiap tugas yang kita lakukan Insya Allah akan menjadi lebih baik dan tentu saja mendapat rido dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Apa pun status dan jabatan kita, jangan menghalangi kita untuk berkata dan berlaku jujur serta senantiasa bekerja dengan penuh semangat. Insya Allah pada akhirnya semuanya akan menjadi ladang ibadah bagi kita.

Senantiasa berupaya menjadi aparatur Kementerian Agama yang bisa diteladani, baik ucapan maupun perbuatan. Dengan selalu berpedoman kepada lima nilai Budaya Kerja Kementerian Agama, yakni: Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab dan Keteladan.

Mari membiasakan yang benar. Bukan membenarkan kebiasaan yang sudah nyata-nyata tidak benar dan menyimpang. Ayo bicara jujur, di mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini.*(Sumiati/Kemenag Kota Pontianak)

Penulis Opini: 
Sumiati