Semakin bertambahnya usia dan semakin bertemu macam-macam jenis karakter orang, sedikit demi sedikit mulai mencoba memahami bahwa tak semua orang bisa menjadi yang seperti kita inginkan. Baik perbuatannya…Terutama kata-katanya.. Ada yang menyampaikan kebenaran dengan kata-kata dan sikap yang terasa nyaman bagi kita.

Sebaliknya,,,ada yang menyampaikan kebenaran dengan penyampaian dan sikap bukan seperti yang kita inginkan.. Ada orang yang bercanda dengan elegan, pun ada yang bercanda namun menyakitkan. Ada yang berkata2 dengan bijak dan berbobot, pun ada yang berkata-kata asal bunyi dan tak bernilai sama sekali..

Kalo dulu saya bakal mundur teratur dan malas bertemu lagi dengan orang-orang yang membuat saya tidak nyaman. Ternyata tidak bisa demikian. Manusia adalah makhluk sosial, butuh orang lain untuk melengkapi kehidupannya, butuh pemakluman atas sikap dan kata-kata yang kadang membuat tidak nyaman, barangkali dia melakukan tanpa sengaja dan seribu alasan pemakluman yang lain.

Tentu ini dalam koridor bermasyarakat, bukan yang menyinggung ranah hukum. Mungkin lebih tepatnya membatasi, bukan menjauh sama sekali. Kadang orang terdekat kita juga melakukannya terhadap kita dan tentu saja kita juga mungkin pernah melakukan terhadap mereka bukan?

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Ini adalah salah satu panduan dalam mencari teman. Nah, jika kita sedang 'lelah' menghadapi model manusia yang kata-katanya kurang cocok di hati kita atau sedang berhadapan dengan tipe manusia si “pandai besi”, maka istirahatkan sejenak diri kita, menjauh sejenak darinya, tarik nafas panjang, berpikir positif, ingat kebaikannya, InsyaAllah akan lebih baik daripada menyimpan amarah dan sakit hati yang tak kunjung padam. Mari berbahagia! Semangat semangat!!

Penulis Opini: 
Penyuluh Kementerian Agama Kota Singkawang