Mengingatkan atau menasihati orang lain karena melakukan kekeliruan itu suatu kewajiban. Karena sudah menjadi kodratnya manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tapi tentunya harus dengan cara yang baik, santun, penuh kasih sayang dan di waktu yang tepat. Agar tidak membuat orang yang dinasihati merasa kesal dan marah.

Akan lebih baik lagi, kalau ingin menasihati orang lain tentang kebenaran, kita perlu memohon rahmat Allah Taala seraya melakukan introspeksi diri. Apakah kita ingin meluruskan prilaku keliru orang lain dengan tulus karena Allah? Ataukah karena kita merasa lebih baik dan berniat menjatuhkan reputasi orang lain?

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr, 103: 2-3).

Ketika akan mengingatkan orang lain, sebaiknya kita juga harus cari tahu terlebih dahulu tentang orang tersebut. Apakah kesalahan yang dilakukannya dengan sengaja atau karena khilaf saja. Atau mungkin karena ia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu suatu kesalahan. Hal tersebut mungkin saja terjadi. Intinya adalah jangan buru-buru menilai orang lain salah.

Faktanya adalah kita sering menjumpai orang-orang yang melakukan kesalahan. Tapi mereka seolah tidak menganggap itu salah. Bahkan kesalahan tersebut seolah mendapat pembenaran dan pembelaan dari orang lain. Parahnya lagi, pembelaan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang notabene harusnya menjadi panutan dan teladan yang baik bagi orang lain.

Katanya sih, jangan suka mencampuri urusan orang lain. Urus saja urusan kita masing-masing. Begitu pembelaan yang dilakukannya terhadap orang-orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan. Pertanyaannya adalah apa benar kita tidak boleh menasihati orang lain?

Menurut penulis, kalau menasihati orang lain karena Allah, dan supaya orang yang dinasihati menjadi lebih baik, itu sangat dianjurkan agama.Yang tidak boleh adalah kalau kita menggunjing kesalahan yang diperbuat orang lain di belakangnya (ghibah). Sehingga berpotensi menjadi masalah dan mempermalukan orang yang digunjingkan.

Dari pada kita bergunjing atau menceritakan kejelekan orang lain, alangkah lebih baik kalau kita mengingatkan atau menasihati orang tersebut langsung kepada yang bersangkutan. Agar orang lain tidak ikut berbuat dosa karena bergunjing. Akan tetapi harus dengan cara yang baik, santun dan tidak kasar alias marah-marah, serta sesuai tuntunan agama. Salah satunya adalah tidak menasihatinya dan menegurnya di depan umum.

Kalaupun terpaksa harus menasihati di depan umum seperti seorang ustadz atau ustadzah yang sedang memberikan tausiyah (dakwah), sebaiknya tidak ditujukan kepada satu orang atau menyebutkan nama pelaku. Hal tersebut agar tidak mempermalukan yang bersangkutan di depan umum.

Imam Syafii dalam syairnya mengatakan: Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri, dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku, maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.

Semoga kita semua menjadi orang-orang baik yang senantiasa mampu mengingatkan dan menasihati dengan cara yang baik dan bijak. Tidak selalu mengedepankan emosi. Apa lagi karena terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. Semoga...!!!.*(Sumiati/Pelaksana Seksi PAI Kemenag Kota Pontianak)

Penulis Opini: 
Sumiati