Manusia adalah makhluk yang tak lepas dari kesalahan dan dosa, baik itu dosa besar maupun dosa kecil. Kesalahan ibarat pakaian yang melekat pada manusia, bukan pada kesalahannya yang menjadi titik pembahasan tulisan ini, tapi bahwa karena ia menjadi pakaian manusia maka orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, orang yang baik adalah orang yang jika berbuat salah kemudian taubat dengan memperbanyak permohonan ampun pada Allah SWT (istighfar), menyesali apa yang telah diperbuat dan selanjutnya mengisi hari-hari dengan bertabur kebaikan.

Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin Al-Razi (W 660 H), mensyaratkan taubat dengan meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, mengucapkan kalimat istighfar, seraya menyesali perbuatan dosa dan maksiat itu, bertekad dalam hati untuk tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Sebagian ulama menambahkan syarat meminta maaf kepada mereka yang telah dianiaya dan mengembalikan hak-hak mereka, mengganti perbuatan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan. 

Jadi kesalahan yang diperbuat dalam menebus kekhilafannya harus dilihat dulu apakah berkaitan dengan hak-hak Allah SWT atau ada kaitannya dengan manusia. Jika berkaitan dengan hak-hak Allah SWT maka sudah menjadi kewajiban untuk ditunaikan, sementara jika berkaitan dengan hablun minannas maka harus diselesaikan dulu secara baik.

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh istrinya, 'Aisyah RA, mengapa engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah engkau seorang nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT? Rasulullah menjawab singkat, "Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur?" Dari sini bisa dipahami bahwa porsi makna taubat tidak hanya sekadar pembersihan diri dari dosa dan maksiat, tetapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah).

Allah SWT dengan tegas menyebutkan orang-orang yang dicintainya, dalam QS. al-Baqarah/2: 222 disebutkan: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Firman Allah SWT di atas senada dapat ditemukan juga dalam QS. al-Maidah/5: 39 yang berbunyi: “Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatannya, dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah bertaubat kepadanya (menerima taubatnya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 

Menyadari sepenuhnya bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan, karenanya kesadaran (awareness) menjadi penting. Dengan adanya kesadaran, akan menuntun manusia untuk berbuat lebih baik dan terarah. Hanya kadang-kadang kesadaran itu muncul dalam bentuk yang beragam. Ada yang muncul dengan cara yang mudah dan tidak disengaja, namun ada juga yang melalui kisah dan episode yang berliku.

Mengingat iman manusia kadang naik kadang turun, memilih tempat dan teman serta suasana hidup yang dekat dengan agama menjadi faktor yang ikut menentukan dalam kesehariannya.

Istighfar dan taubat, mengeluh dan mengadu kepada Sang Khaliq atas segala kesalahan yang diperbuat menjadi nilai plus dihadapan Allah SWT. Rahman dan Rahimnya Allah SWT mengalahkan murkanya. Kelembutan dan Kemaafannya mendahului siksa dan pendendamnya. Inilah salah satu makna dari mengapa kita dianjurkan untuk mengawali setiap pekerjaan dengan mengucapkan namanya yang Maha Pengasih dan Penyayang (al-Rahman dan al-Rahim).

Penetapan al-Rahman dan al-Rahim sebagai induk nama-Nya yang diisyaratkan dengan pemberian nama itu menempel pada kata basmalah ditambah pengulangan penyebutannya begitu banyak, mengisyaratkan bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Maha Pengasih dan Penyayang ketimbang sebagai Maha Penghukum dan Maha Pendendam. Kenyataan ini memberikan rasa optimisme kepada siapapun hamba-Nya yang pernah melakukan kekeliruan dan kesalahan untuk segera kembali (taubat) kepada-Nya.

Dalam kajian tasawuf disebutkan bahwa lirihan doa dan tangisan yang mengiba mengharap ampunan dari-Nya lebih bermakna daripada butiran tasbih dengan kontak batin dan hati yang tidak terkontrol. Saudaraku, datanglah kepada-Nya dengan taubat. Ia senantiasa membuka lebar-lebar pintu kemaafannya. Semoga**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z., M. Pd. I