Satu hari, penulis didatangi beberapa alumni sekolah di tempat penulis bertugas saat ini. Bertemu, jabat dan cium tangan dan biasa pertanyaan yang diajukan guru adalah sekarang melanjutkan kemana. Pertanyaan khusus yang selalu penulis ajukan adalah di SMA/MA ikut ekskul apa, dari beberapa alumni tersebut penulis cukup terkejut dengan satu alumni yang memberikan jawaban bahwa ia aktif di salah satu ekskul dan ditunjuk sebagai asisten pelatih. Bukan ekskulnya yang menjadi pikiran penulis, tetapi bahwa alumni ini saat masih tercatat sebagai siswa di tempat penulis bertugas cukup dikenal bukan karena aktivitas ekskulnya, bukan karena juara kelasnya dan bukan karena prestasinya tapi karena ia sering terlambat, tidak ada ekskul satupun yang diikutinya, dan prestasinya biasa-biasa saja. Sebagian nama siswa terlambat yang ada di jurnal guru piket saat itu adalah namanya. Saat ini ia datang dan bangga dengan mengatakan bahwa ia diangkat menjadi asisten pelatih di ekskul sekolahnya saat ini, penulis mencoba meyakini bahwa tidak mungkin orang yang biasa-biasa saja, yang sering terlambat akan diangkat pada posisi itu. Pasti trjadi perubahan yang besar dalam diri anak ini.

Pada akhirnya, penulis memahami dan sampailah pada satu titik persinggungan bahwa sekolah bukan sekedar tempat untuk melihat mereka eksis dan berprestasi, sekolah juga harus dilihat sebagai wadah untuk membangkitkan potensi kemajuan dan bekal untuk hari esok, esok bisa bermakna selama mereka berada di bangku sekolah saat ini, bisa berarti pada jenjang pendidikan berikutnya dan seterusnya. Sekolah harus selalu memberikan nutrisi optimis dan gairah meraih cita-cita, bahwa setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Ringkasnya, setiap anak adalah juara. Sekolah harus memainkan peran sebagai pusat pembangkit semangat anak-anak untuk meraih masa depan, dan bukan sebagai lembaga yang mematikan aktivitas dan kreativitas warganya. Contoh begitu sempitnya imajinasi dan kreativitas anak-anak adalah apa yang mereka gambar saat disediakan pensil dan buku gambar? Penulis yakin akan ada atau malah sebagian besar menggambar dua gunung, dengan matahari sedang terbit, ada burung dan awan berarak, sepanjang jalan ada tiang listrik dengan tanaman padi menyertainya, tidak jauh akan ada seorang yang sedang memancing. Sekali lagi, sekolah harus mampu membuka ruang-ruang imajinasi peserta didik dan memberi kebebasan berkreasi sebagaimana keinginan mereka.

Diceritakan adanya sekolah hutan binatang. Semua peserta didiknya adalah binatang, burung, buaya, monyet, ular dan sebagainya. Sementara Kepala Sekolahnya adalah seorang manusia. Salah satu materi yang terdapat struktur kurikulum tersebut adalah pelajaran berenang, berlari, memanjat dan terbang. Dan setiap peserta didik harus ikut mata pelajaran tersebut tanpa terkecuali. Giliran seekor rusa yang dikenal ahli berlari, suatu saat sang rusa hampir tenggelam saat mengikuti mata pelajaran berenang. Setiap waktu digunakannya untuk berlatih berenang, karena sibuk mengurusi mata pelajaran ini, sang rusa mulai melupakan keahlian sebelumnya yakni berlari sementara tuntutan untuk mencapai ketuntasan mata pelajaran berenang harus tercapai. Karena merasa bukan keahliannya dan tidak bisa dipaksanakan, saat mengikuti ulangan umum hasil akhirnya menunjukkan bahwa sang rusa tidak bisa naik kelas, ternyata kondisi ini juga dialami oleh binatang lainnya yang bukan keahlian dan spesialisasinya. Monyet tidak tuntas dalam pelajaran terbang, buaya gagal dalam mata pelajaran memanjat, dan burung tidak lulus untuk  mata pelajaran berenang.  Akibatnya semua peserta didik tidak lulus untuk mata pelajaran yang  diujikan sementara keahlian dasarnya yang mereka miliki perlahan juga semakin lemah.

Kisah di atas menunjukkan pada beberapa aspek proses pembelajaran kita masih seperti ini, seakan peserta didik dibatasi oleh luasnya kekuasaan guru. Sejatinya sekolah (baca: guru) tidak lebih sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan tentang apa yang harus diraih dan bagaimana cara meraihnya.  Hal penting yang harus dicamkan adalah bahwa setiap peserta didik memiliki gaya belajar masing-masing.

Dengan kisah di awal tulisan ini, penulis ingin menunjukkan bahwa keberhasilan peserta didik tidak mesti saat ia berada di lembaga saat itu juga, tapi yakinlah bahwa anak akan tumbuh-kembang dan penulis yakin, sedikit banyak apa yang ditransfer di sekolah saat ini akan berpengaruh pada proses pengembangan dirinya di masa yang akan datang. Mari jadikan sekolah sebagai wadah pembentukan karakter positif, karena walau bagaimanapun sekolah adalah satu dari lembaga yang ikut membentuk generasi masa depan. Semoga***

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.