Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “stabilisator” berarti orang atau alat dan sebagainya yang membuat stabil. Dari pengertian ini memunculkan pemahaman bahwa siapapun (orang) dan benda (alat) yang dapat membuat suasana menjadi stabil, tidak oleng, tidak terombang ambing dapat dikategorikan sebagai makna dari “stabilisator”.

Seorang yang memainkan peran dan sebagai problem solver adalah kategori manusia yang menginginkan adanya kestabilan. Konsepnya adalah dengan adanya kestabilan maka apapun akan dapat dikerjakan dengan tenang dan berlanjut, artinya juga bahwa apa yang dapat dilakukan dan dihasilkan ditengah kekacauan dan ketidakstabilan? Ibarat sebuah rumah tangga yang suami isteri tidak harmonis, suami merasa senang dan betah di luar rumah, sementara isteri tidak peduli dengan urusan rumah tangganya, anak-anak tidak terkontrol karena tidak ada waktu untuk menyapa dan menyentuhnya dengan kasih sayang, sekolahnya tidak terurus, belajarnya tidak terawasi, teman bermainnya tidak terkontrol, dalam suasana semacam ini, maka keluarga tersebut besar kemungkinan akan menjadi keluarga yang hancur lebur, broken home dan liar. Dengan gambaran keluarga semacam itu akankah terwujud keluarga yang menjadi dambaan semua orang, yang umum diharapkan yakni keluarga yang sakionah, mawaddah wa rohmah? Jauh panggang daripada api, bagaimana akan mewujudkan keluarga yang demikian manakala masing-masing bergerak dengan semau gue tanpa aturan. Keluarga yang ideal adalah yang berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Stabil bukan tidak bergerak, stabil bukan tetap ditempat. Stabil adalah manakala semua porosnya bergerak sesuai dengan garis edarnya. Kala semua elemen berfungsi sebagaimana mestinya, stabil adalah adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Orang yang berpikir stabil sering dilawankan dengan jiwa yang labil.

Berpikir stabil berarti berpikir secara bijak, cerdas dan pandai menempatkan. Bijak dalam arti apa yang dikeluarkan untuk dikonsumsi oleh siapapun menjadi sebuah ketenangan yang mengarah pada kestabilan orang yang mendengarnya. Bicaranya adalah emas dan diamnya adalah perak. Emas dan perak menunjukkan dua harta benda yang memiliki nilai yang tinggi. Inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW, “Bicaralah yang baik atau diam”.

Keluarga yang ideal adalah yang masing-masing faham dengan tupoksinya (tugas pokok dan fungsinya). Ayah memainkan peran sebagaimana layaknya seorang kepala keluarga, ibu memainkan peran sebagaimana mestinya seorang yang penuh dengan kelembutan dan penuh dengan “rasa”nya, anak-anak memahami tugas dan kewajiban demikian djuga dengan anggota keluarga lainnya. Jika sudah demikian, maka apa yang diharapkan akan terwujud. Sebagai sebuah keluarga, maka yang harus ditanamkan sejak awal adalah kita adalah satu keluarga, kita diikat oleh satu ibu dan bapak yang sama, kita dididik oleh lingkungan yang sama. Jika ini menguat dan mengemuka manakala ada ejekan, cacian, fitnah dan rongrongan dari luar, dengan segera kita diingatkan untuk menjadi sebuah keluarga yang utuh dan bersama-sama menghadapi rongrongan itu. Mengapa keluarga ini bersatu? Karena mereka sudah dikenalkan oleh orang tuanya, paman dan bibinya, bahwa ini abangmu, ini kakakmu, ini saudaramu, ini pamanmu, ini bibimu. Kenal karena sebelumnya sudah dikenalkan, sayang karena sebelumnya sudah didekatkan, dekat karena sebelumnya sudah diketemukan.

Semestinya demikianlah keadaan negeri ini, adanya jiwa yang merasa sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa harus tetap dipeliahra dan di digelorakan dan sadar bahwa dengan adanya kestabilan dalam keluarga (dan berbangsa) akan dapat melanjutkan cita-cita dan tujuan bersama yang ingin dicapai. Bangsa yang stabil dengan gerak yang berbeda namun sama mencapai visi akan berbeda dengan bangsa yang tidak stabil yang hanya cek-cok dengan urusan yang tidak semestinya dipermasalahkan.Rambut sama hitam tapi dalam hati tiada yang tahu.

Manusia stabilisator diperlukan dalam keluarga yang menginginkan lanjutnya pergerakan, tetapi ternyata tidak mudah untuk menemukannya, justru yang sering ditemui adalah manusia yang tidak menginginkan ketidakstabilan dalam keluarga tersebut. Negeri ini butuh sosok negarawan yang tangguh, pikiran yang menyejukkan dan ide yang merekatkan.

Kita adalah stabilisator untuk tempat dan ruang lingkup yang berbeda. Jika tidak, anda akan dikuasai oleh mereka yang menginginkan ketidakstabilan. Jadilah person yang mewarnai dan bukan diwarnai.**

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.