Lebaran adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh segenap umat islam. Mereka menyambutnya dengan suka cita. Bahkan acara penyambutan sudah dimulai sejak masuk bulan ramadhan. Ada yang memulai menyiapkan gorden, pakaian maupun perabot baru, dan ada yang sibuk membuat berbagai macam makanan khas lebaran.

Kegiatan penyambutan lebaran ini tak hanya menguras waktu dan tenaga, tetapi juga menguras uang sehingga menjelang lebaran harga barang melonjak naik. Hal ini wajar karena hampir semua orang berlomba-lomba membeli barang yang mereka perlukan.

Lebaran juga menjadi moment penting untuk menjalin silaturrahmi yang sangat dianjurkan dalam agama islam, dapat mempererat dan menjaga keharmonisan kekerabatan, serta merupakan bentuk ketakwaan kepada Allah serta merupakan bentuk ibadah yang sangat besar pahalanya. Allah berfirman dalam surah An Nisa: 1:

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. 4:1)

Rasulullah SAW juga bersabda,”Barang siapa yang ingin diluaskan rezkinya dan ditambah umurnya hendaklah menyambung silaturrahmi” (HR. Muslim).

Silaturrahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik terhadap orang yang telah berbuat baik terhadap kita, namun silaturrahmi yang sejati adalah menyambung hubungan yang telah putus dan retak serta berbuat baik kepada orang yang telah bersikap buruk kepada kita.

Dari Abdullah bin Amr, Rosulullah bersabda,” Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung silaturrahmi itu orang yang membalas kebaikan, namun orang yang menyambung silaturrahmi  adalah orang yang menyambung hubungan dengan orang yang telah memutuskan silaturrahmi”.

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim bersilaturrahmi dengan kerabat, saling menyayangi, menghormati, tentunya tidak hanya saat lebaran tapi kapan saja dan dimana saja karena menyambung silaturrahmi bukanlah tradisi, melainkan ibadah yang dianjurkan oleh agama.

Betapa banyak hadits yang menganjurkan kepada umat islam agar menyambung silaturrahmi meskipun terkadang usaha kita untuk melakukan hal itu dibalas dengan yang sebaliknya. Kita tidak perlu bersedih karena orang yang suka silaturrahmi akan selalu ditolong Allah sekalipun ia dibalas dengan kejelekan sebagaimana sabda Rosulullah SAW,

Dari Abu Hurairah bahwasanya seseorang lelaki berkata:”Wahai Rosulullah, aku mempunyai kerabat yang aku menyambung silaturrahmi dengan mereka tapi mereka memutuskannya. Aku berbuat baik namun mereka membalas dengan kejelekan. Aku lemah lembut, tapi mereka jahil kepadaku, maka nabi bersabda:”Jika benar keadaanmu begitu, maka seolah-olah mereka telah memberikan makanan pasir panas kepadamu. Engkau akan senantiasa dibela Allah selama engkau seperti itu,”(HR. Muslim).

Selain itu, kebanyakan orang memahami bahwa silaturrahmi adalah saling berkunjung atau saling memaafkan saja. Padahal begitu banyak bentuk silaturrahmi yang dapat kita lakukan, di antaranya:

Pertama: Saling mengasihi antar sesama mukmin. Rosulullah SAW bersabda,”Tidaklah beriman di antara kalian sehingga saudaranya lebih dicintai dari pada dirinya sendiri” (HR.Muttafaqun ‘alaihi).

Kedua: Saling memberi pertolongan dalam segala keperluan. “Barang siapa yang menghilangkan kesulitan dari saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya di hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya menolong sesamanya (saudaranya)...’ (HR. Muslim).

Ketiga: Saling mengunjungi dan menziarahi tidak hanya pada saat lebaran.

Ke empat: Saling menjaga nama baik, kehormatan dan harga diri

Ke lima: Saling mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah sebagai mana kaum Muhajirin dan Anshor.

Demikian. Semoga bermanfaat.

(Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama kota Singkawang).

Penulis Opini: 
Herlin