Satu hari seorang petani usai bekerja di kebun, istirahat sejenak sambil bersandar di sebuah pohon langsat. Saat memandang ke atas, dilihatnya untaian buah langsat yang kecil-kecil. Dalam kondisi santai sepeti, terlintas dalam pikirannya tentang pohon langsat dan buahnya. Ia bergumam, “Langsat pohonnya tinggi dan besar, tetapi mengapa buahnya kecil-kecil, seharusnya pohon besar buahnya juga besar, jadi seimbang, kok gini ciptaan Tuhan? “ Belum selesai ia merenung, pikirannya membandingkan dengan buah semangka dan batangnya yang juga tidak seimbang, ia membandingkan semangka yang buahnya besar namun batangnya hampir tidak berdaya menahan berat beban semangka. “Seharusnya, semangka besar batangnya juga besar, sebaiknya buah semangka berbatang langsat dan langsat berbatang semangka, ia baru pas, kalau begini bentuknya berarti Tuhan bukan pencipta yang baik”, mulai kritis pikiran pak tani. Cukup lama ia merenung tentang hal itu, iapun terlelap dan tidur. Selang beberapa menit kemudian iapun terbangun, terbangunnya karena ada satu butir langsat yang jatuh dikepalanya, kala tersadar ia berucap alhamdulillah, “Syukur buah langsat sebesar ini, kalau langsat sebesar semangka, bagaimana keadaan kepalaku?” ujar pak tani.

Kisah sederhana ini, mengajarkan pada kita setidaknya tentang dua hal. Pertama, setiap ciptaan-Nya tidak ada yang diciptakan dengan sia-sia dan tanpa makna, keterbatasan pengetahuan dalam mencernalah yang membuat kita buru-buru pada sebuah kesimpulan dan akhirnya kita membuat keputusan yang tidak bijak dan salah. Kedua, negative thinking atau prasangka tidak baik dapat membentuk pola pikir kita sehingga yang muncul adalah tidak bisa, tidak mungkin dan tidak respek pada kinerja orang lain.

Dalam keseharian, sering kita memberikan label dan stigma pada sesuatu yang sebenarnya kitapun minim informasi tentangnya, apalagi di era digital yang serba canggih saat ini, tidak ada batas dan kontrol yang rinci tentang bagaimana adab bermedia sosial, ketidaktahuan telah ditinggalkan yang penting ada status yang disampaikan. Semua atas dasar kira-kira, katanya dan barang kali, untaian kata yang bisa menimbulkan banyak tafsir dan pemaknaan.

Dalam buku Unleash Your Inner Power with Zen: 50 Kisah Zen untuk Memaksimalkan Potensi Diri yang menyebutkan kalimat inspiratif dan motivasi berikut, Berhati-hatilah dengan pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu; Berhati-hatilah dengan ucapanmu karena ia akan menjadi tindakanmu;  Berhati-hatilah dengan tindakanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu; Berhati-hatilah dengan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu dan; Berhati-hatilah dengan karaktermu karena ia akan menjadi takdirmu. Kalimat inspiratif tersebut selanjutnya akan menjadi personal branding atau pembentuk imej dan persepsi bagi seseorang terhadap orang lain karena ia akan menjadi sebuah karakter. Ringkasnya, adanya stigma dan label berangkat dan berawal dari pola pikir seseorang.

Kisah berikut ini, kiranya dapat menyeruak cara berpikir kita untuk tidak mudah berprasangka buruk pada siapapun. Diceritakan seorang raja yang menyamar sebagai rakyat jelata mengadakan blusukan di sebuah kampung, saat melintasi sebuah lorong sempit dilihatnya sesosok mayat laki-laki tergeletak di tanah. Anehnya, beberapa orang yang lalu lalang dijalanan itu tidak satupun yang peduli, cuek terhadap mayat tersebut. Kepada satu orang yang sedang melintas, rajapun bertanya, “ada apa dengan mayat ini, kenapa tidak satupun yang mempedulikannya,” Jawab orang yang lewat, “siapa yang sudi mengurus jenazahnya, ia adalah adalah orang senang meminum khamar, ia orang suka berzina mengunjungi tempat prostitusi”, raja kemudian berujar, “tolong antara saya dan jenazah ini ke keluarganya, walau bagaimanapun ia adalah seorang manusia”, tatkala jenazahnya sudah di rumah, isterinya langsung menangis karena ternyata yang datang adalah jenazah suaminya yang dicintainya, sambil menangis, sang isteri berkata, “Semoga engkau dirahmati Allah wahai Wali Allah, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah orang yang saleh”, sang rajapun kaget, mengapa isterinya menyebut suaminya dengan sebutan wali Allah, sementara jenazahnya tidak satupun orang yang peduli untuk mengurusnya.

Sang isteri menjelaskan, “bahwa apa yang orang lihat pada zahirnya tidaklah sejalan dengan apa yang menjadi kenyataannya, benar bahwa suamiku setiap malam pergi ke penjual khamar di warung-warung, ia membeli khamar dalam jumlah yang banyak kemudian dibawa pulang ke rumah, lantas setiba di rumah, kulihat khamr yang dibelinya bukan untuk diminumnya tapi dibuangnya ke toilet atau tempat pembuangan. Hal ini dilakukannya dengan maksud supaya saudara-saudaranya kaum muslimin lainnya yang tergoda untuk meminum khmar tidak jadi membeli karena khamrnya telah habis terjual dan itu ia lakukan demi menyelamatkan kaum muslim lainnya”.

“Lantas dengan seringnya ia berkunjung ke tempat prostitusi?” sergah sang raja bertanya penasaran. “Adapun ia dituduhkan sebagai orang yang gemar ke tempat perzinaan adalah dengan memberi uang kepada para pelaku zina/WTS sambil berkata, malam ini kau kubayar tanpa aktifitas apapun dari ku dan jangan kau layani siapapun hingga pagi hari, semoga apa yang kulakukan ini dapat meringankan keburukan para pezina dan menyelamatkan keburukan lainnya. Namun sebagian orang menyaksikan dan mengetahui apa yang suamiku lakukan membicarakannya dengan penuh keburukan, seakan suamiku tidak ada celah kebaikan yang dapat diikuti, tetapi ketahuilah wahai tuan, suamiku pernah berujar, saat ia meninggal maka yang akan memandikan dan mengurus jenazahnya adalah orang yang berkuasa di negeri ini”.

Tiba-tiba mata sang raja basah dan menangis, dan berkata, Wahai Ibu, benarlah apa yang suamimu katakan, bahwa akulah raja di negeri ini, sengaja menyamar untuk melihat bagaimana kondisi rakyatku dan besok kami akan menyelenggarakan pemakaman untuk suamimu ini.

Diantara hikmah yang dapat diambil dari kisah di atas, bahwa sering kita menilai orang hanya dengan melihat penampilan luarnya saja, bahkan sekedar dari omongannya saja. Seandainya kita mampu bersikap bijak dengan memandang orang lain sebagai makhluk ciptaan-Nya, menilai dengan positive thinking  niscaya mungkin kita akan berkata ia lebih baik dari kita.

Ketika kita belajar menjadi bijak memahami fenomena yang ada maka pada akhirnya kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa apa yang diciptakan Tuhan pasti tersirat makna di dalamnya, pasti ada rahasia dibaliknya dan pasti mengandung pelajaran buat orang-orang yang cerdas membacanya.*

Penulis Opini: 
Sholihin H. Z.