Sengaja ku simpan rapi rindu ini. Salam rindu yang hanya berani ku goreskan lewat tinta dan belum berani ku haturkan padamu sebelum waktu itu tiba, waktu di mana ikatan suci mengikat jiwa dan raga kita dalam bentuk ketaatan dan cinta.

Calon imamku ...

Beberapa bulan lalu, kau dengan segala keberanianmu menghadap kedua orang tuaku, meminta dengan tulus anak mereka untuk menjadi pendamping hidupmu. Jujur saat itu aku takut ... takut akan kehilangan masa indah bersama teman-temanku, takut akan kehilangan kesempatanku dalam berkarya dan yang lebih aku takutkan lagi adalah aku takut tidak bisa menjadi pendampingmu di dunia hingga surga-Nya kelak.

Lewat doa aku terus meminta pada-Nya akan ketetapan hati. Alhamdulillah ... hati ini semakin mantap memilihmu untuk mengarungi kehidupan dengan segala uji dan cobaannya. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah

Calon imamku ...

Hari bahagia itu masih beberapa bulan lagi. Namun aku sudah sangat merindukanmu. Merindukan sosokmu yang belum pernah ku kenal sebelumnya, sosok yang belum pernah hadir dalam episode kehidupanku.

Jika bukan karena Allah dan Rasul-Nya, mungkin saat ini aku sudah menghubungimu dan menyatakan kerinduanku. Namun aku tak ingin Allah dan Rasul cemburu. Aku tak ingin Allah murka dengan rinduku ini. Karena aku ingin mencintai-Nya lebih dari apa pun.

Calon imamku ...

Aku memilihmu bukan karena rupa harta dan pangkat. Namun aku memilihmu karena telah sampai kepadaku bahwa kau memiliki aqidah yang lurus, kau mengusahakan sholat lima waktumu di masjid, kau sosok yang santun kepada keluarga dan sesama dan yang aku tahu kau alasanmu menikahiku adalah untuk menjaga kehormatanmu.

Calon imamku ...

Bukan aku mencari kesempurnaan. Karena aku sadar, aku jauh dari kata sempurna. Lakuku masih banyak cela, penyakit hati pun kadang masih bertahta padaku. Namun aku akan terus berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menjadi pendampingmu.
Aku berharap, kelak engkaulah sosok yang akan menguatkan cintaku pada-Nya, memimpin sekaligus mendidik jundi-jundi kita menjadi pribadi yang soleh dan soleha, mengarungi rumah tangga beraroma surga.

Calon imamku ...

Hari-hari yang ku lalui berjalan lambat ketika aku harus sabar menantikanmu mengucap akad. Aku tak ingin merusak proses syar'i ini, proses yang telah aku perjuangkan bersusah payah. Maka terima kasih engkau telah menjaga proses ini dari fitnah, memperhatikan adab-adabnya dan menggantungkan harap hanya pada-Nya.

Calon imamku ...

Jika rasa rindu datang menggodamu, maka bersabarlah. Kukuhkan aqidah, istiqomah dalam berakhlakul karimah, karena aku di sini menanti dengan segenap kerinduan dan kesabaran. Dengan doa yang ku lantunkan lewat sujud ... semoga Allah selalu menjagamu, memudahkan urusanmu.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin, tak hanya aku.

Penulis Opini: 
Herlin