Kamis, 20 Desember 2007, 12:00 – Haji
Jemaah Padati Kawasan Mina

Mina, 20/12 (Pinmas)—Usai melontar jumroh Aqobah, sekitar 215  ribu orang jemaah Indonesia kini memasuki hari kedua bermalam di Mina dan  diperkirakan dalam tiga hari lagi baru bisa menyelesaikan rangkaian  ibadah haji guna melakukan lontar jumroh Ula, Usto, Aqobah.

Maktab Mina yang diisi berbagai jemaah seluruh dunia bagai pasar. Kendati warung, pertokoan tak nampak namun kehadiran jutaan manusia yang berhaji membuat suasana perkemahan di Mina terasa tak ada bedanya antara siang dan malam. Manusia mengenakan kostum putih mendominasi keramaian. Walau ada yang mengenakan warna lain, dapat dipastikan bahwa mereka kalau tidak polisi/askar pasti petugas atau kaum hawa berpakaian muslim rapat. Gema takbir terdengar dimana-mana. Sedangkan petugas sibuk mengatur jemaah berbaris menuju kawasan pelontaran jumroh. Petugas kesehatan pun nampak tak kalah sibuk. Mobil Palang Merah Arab Saudi mondar-mandir di lingkungan perkemahan Mina. Magtab Indonesia bersebalahan dengan Malaysia. Hanya dipisahkan jalan raya. Magtab Indonesia dibanding negara lainnya jauh lebih ramai. Orangnya lebih sibuk. Keadaan itu bisa dimaklumi. Jemaah Indonesia menempati urutan paling banyak, disusul Pakistan dan Turki atau Iran. Hingga hari kedua bermalam di Magtab Mina, tercatat sebanyak lima orang meninggal sehingga totol jemaah haji Indonesia yang wafat di tanah suci mencapai 103 orang. Perkembangan mengejutkan terjadi di bidang kesehatan, yaitu dalam tiga jam terakhir pada Kamis dini hari waktu setempat tercatat 129 orang harus dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). Dari pemantauan MCH di lapangan, kebanyakan yang dirawat itu berusia lanjut. Mereka masuk ke BPHI diangkut ambulan, ditandu dan ada pula mengenakan kursi roda. Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Nursamad Kamba, menyebut, umumnya mereka menderita sesak nafas dan jantung. Di Mina, maktab bagi jemaah Indonesia terasa amat sesak. Petugas PPIH tidur di atas karpet bedesak-desakan. Bagai ikan lele di sebuah bak penjual ikan di pasar tradisional Jakarta.

Foto : SPA

Jadi, karena ruang tenda amat sempit, banyak petugas tidur di luar, di lorong antartenda jemaah. Dan, hal serupa juga terjadi pada sejumlah tenda jemaah. Namun sedikit luas, sehingga jemaah bisa tidur lebih nyaman. Meski begitu, tetap saja banyak yang mengeluhkan tentang keadaan tersebut. "Saya dapat tenda di Mina Jadid, tidur berhimpitan," keluh seorang jemaah dari Jawa Timur yang menolak menyebut jatidirinya disebut. Orang tersebut memilih tidur dekat tenda BPHI, kendati hal itu di tepi jalan. Alasan tidur di situ, karena lebih dekat jaraknya — sekitar 3 km — untuk melempar jumroh. Sedangkan jarak Mina Jadid ke jamarat bisa mencapai 4 km. Mengenai penumpukan di sebagian tenda tersebut, Nursamad menyebut hal itu terjadi lantaran begitu banyaknya jemaah haji dari tanah air, sementara jumlah tenda yang diberikan pemerintah setempat terbatas. Hal ini juga erat kaitannya dengan plafon anggaran yang tersedia. Namun ia menolak menyebut berapa angka ideal supaya hal semacam itu tak terulang."Ini menyangkut biaya dan itu merupakan kewenangan pengambil kebijakan," ia menjelaskan. Hingga Kamis pagi, puluhan ribu jemaah Indonesia sudah melakukan pelontaran kedua: ula, usta dan aqoba masing-masing tujuh lemparan. Prosesi pelontaran berlangsung aman, tak terlalu berdesak-desakan karena lokasi jumarot kini sudah diatur. Pemerintah setempat membangun tempat pelontaran menjadi tiga lantai dengan jalan melingkar sehingga terasa lebih aman bagi jemaah haji. Meski begitu, askar tetap berkeliaran dimana-mana. Setiap jemaah berhenti di tepi, apalagi di tengah, jalan segera diperintahkan untuk segera melanjutkan perjalanan. Jika menjumpai orang membawa tas atau bungkusan besar di kawasan pelontaran, oleh askar setempat, diperiksa. Tas tak boleh dibawa dan harus dititipkan. Hanya dengan cara itu, tak terjadi penumpukan orang di setiap jalan yang dapat mengganggu kerumunan orang melintas. Suasana tempat pelontaran tetap ramai, meski malam hari. Lampu penerang ikut memberi andil besar untuk menciptakan kawasan Mina makin cantik dengan latar belakang pegunungan batu, keras dan tandus. Jemaah haji datang ke sini, seperti dikatakan Amirul Hajj, M. Maftuh Basyuni bukan sekedar untuk meminta pengampunan dosa kepada Allah. Tetapi, yang lebih penting, menurut Basyuni, sebagai pengakuan pengukuhan ketauhitan manusia kepada Sang Pencipta, Allah Maha Besar dan Perkasa di kawasan yang serba tandus itu. (Edy SS)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.361717 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.68
Jumlah pengunjung: 717941
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.