Aroma lebaran sudah tercium di mana-mana, hal tersebut ditandai dengan penuhnya mall-mall, pasar-pasar, mini market sampai super market. Kelihatannya sibuk luar biasa terutama kaum hawa. Bagaimana tidak,  karena rutinitas perayaan lebaran merupakan  hal yang sangat menggembirakan semua orang yang berpuasa. Rasanya seolah-olah lebaran akan terasa tidak lengkap jika tidak dirayakan dengan pakaian yang baru, tersedianya kue yang beraneka macam, kondisi rumah yang tertata dengan rapi berserta cat rumah dan gorden yang baru. Untuk semua itu kita terkadang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Jatah sedekah menjadi berkurang, waktu untuk ibadah yang agak panjang tidak lagi luang, Al-Qur’an hanya sekilas di pandang, semuanya terkorban karena kesibukan yang tidak kunjung selesai. Padahal pada hakikatnya sepuluh hari terakhir ramadhan ini harus diisi dengan banyak amal ibadah sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wasallam. Dalam hadits riwayat ‘Aisyah dijelaskan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, da membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al-Bukhari). Menurut Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in, ada tiga amalan utama yang mesti dilakukan pada sepuluh akhir Ramadhan.

Pertama, memperbanyak sedekah, mencukupi kebutuhan keluarga, dan berbuat baik kepada karib-kerabat dan tetangga. Kalau diberi kelebihan dan kecukupan, alangkah baiknya harta ini dimanfaatkan untuk menyediakan buka puasa semampunya bagi orang yang puasa, meskipun sekadar memberi segelas air.

Kedua, memperbanyak membaca Al-Quran. Membaca Al-Quran disunahkan kapan pun dan di mana pun kecuali tempat-tempat yang di larang. Imam An-Nawawi menjelaskan, membaca Al-Quran di akhir malam lebih baik ketimbang awal malam dan membaca Al-Quran yang paling baik di siang hari adalah setelah shalat shubuh.

Ketiga, memperbanyak i’tikaf di sepuluh terakhir Ramadhan. Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah yang meningkatkan ibadah dengan cara beri’tikaf di masjid pada sepuluh akhir Ramadhan.

Sedangkan lebaran atau Idul fitri sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi Wasallam dari beberapa riwayat bahwa ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah untuk menyambut dan merayakan hari Idul Fitri.

Pertama, takbir. Diriwayatkan bahwa Rasulullah mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadhan hingga pagi hari satu Syawal.

Kedua, memakai pakaian terbaik. Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya

Ketiga, makan sebelum shalat Idul Fitri. Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh.

Keempat, shalat Idul Fitri. Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga  dan sahabat-sahabatnya –baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri.

Kelima, mendatangi tempat keramaian. Suatu ketika saat hari raya Idul Fitri, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng.

Keenam, mengunjungi rumah sahabat. Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat hari raya Idul Fitri sudah ada sejak zaman Rasulullah. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya. 

Tidak ada yang berlebihan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam baik makanan, pakaian maupun yang lainnya ketika merayakan lebaran atau Idul Fitri. Sangat disayangkan jika kita sampai mengorbankan cita-cita kita untuk mendapatkan kemuliaan di Bulan Ramadhan hanya karena mengejar cinta kita akan sebuah kebiasaan berlebaran yang terkesan agak berlebihan. Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum meraih kemuliaan dan memperoleh ampunan serta syurga Ar-Royyan yang Allah janjikan. Manfaatkan akhir Ramadhan yang sebentar lagi akan pamit meninggalkan kita dan jangan sampai kita isi dengan kesibukan dunia yang tidak pernah habis sehingga akhirnya kita termasuk kelompok orang-orang yang “Gugur Sebelum Garis Finis”. (Hanisah/Skw)