(SINGKAWANG) Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang, H.Jawani mengatakan bahwa dalam Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1437 H hendaknya umat Islam Kota Singkawang kembali kepada jati dirinya menjadi Fitrah. Idul Fitri dirangkaikan dengan kegiatan tradisi pasca Lebaran yaitu Halal bihalal (menghalalkan dengan saling memaafkan atau salam-salaman) dari rumah ke rumah, Ormas keagamaan dan setiap dinas instansi Pemerintah atau swasta yang lakukan pada Bulan Syawal. Kemudian, lalu hal yang selalu dipertanyakan mengapa bulan setelah Ramadhan itu dinamai Syawal, bulan yang naik atau meninggi ?

Ada dua alasan yang dapat dikemukakan di sini. Pertama, perkataan Syawal berasal dari kata Arab syala, berarti irtafa'a, naik atau meninggi. Orang Arab biasa berkata, syala al-mizan (naik timbangan) idza irtafa'a (apabila ia telah meninggi), karena derajat kaum Muslim meninggi di mata Allah. Ini karena mereka semakin berharga dan bernilai tinggi setelah mendapatkan pengampunan (maghfirah) dari Allah dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi, ''Siapa-siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus karena Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.SWT. ''

Kedua, karena secara moral dan spiritual kaum Muslim harus mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai amaliyah Ramadhan pada bulan ini dan bulan-bulan berikutnya hingga datang Ramadhan tahun depan. Dalam perspektif ini, Syawal justru bermakna bulan peningkatan ibadah dan amal saleh sebagai kelanjutan logis dari pendidikan moral dan spiritual yang dilakukan selama Ramadhan. Makna dan semangat peningkatan amal ini dapat dilihat dari perintah puasa di bulan ini. Setelah berlebaran pada 1 Syawal, kaum Muslim kembali diperintahkan agar berpuasa Syawal selama enam hari.

Puasa Syawal ini amat besar pahalanya. Nabi bersabda, ''Siapa-siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu berpuasa lagi enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa sepanjang masa dalam setahun'' Di samping itu, perlu diingat bahwa musim haji telah tiba dengan datangnya bulan Syawal. Firman Allah, ''(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.'' (Al-Baqarah: 107). Yaitu, bulan Syawal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah. Dari segi waktu (miqat zamani), Syawwal adalah titik start atau dimulainya musim haji.

Maknanya berarti, setelah menjalankan ibadah puasa, kaum Muslim harus melaksanakan kewajiban agama yang lain, yaitu ibadah haji. Jadi, jelas ada peningkatan amal ibadah di sini, dari puasa ke haji. Jadi, Idul Fitri dan Syawal sesungguhnya mengandung semangat peningkatan ibadah dan amal saleh. Oleh sebab itu, tidak pada tempatnya bila kaum Muslim pasca-Ramadhan justru kembali melakukan dosa-dosa dan berpaling dari petunjuk Tuhan Yang Maha Rahman. Kesucian diri dan keluhuran budi pekerti harus dijaga dan dipelihara sepanjang waktu, sesuai dengan prinsip istiqamah yang diajarkan oleh agama Islam. Demikan ungkapnya. *** (ARI/TU, 15/7/16)