SINGKAWANG, (10/11/2014), Hari ini, 69 tahun yang lalu tepatnya 10 November 1945 adalah hari yang amat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari di mana para pahlawan negeri kita tercinta ini dengan amat gigih berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan beberapa bulan sebelumnya.

Hari di mana dimulainya pertempuran sengit di Surabaya antara para pejuang Surabaya melawan bala tentara Inggris. Pertempuran yang dilatarbelakangi tewasnya Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby dalam sebuah kontak tembak yang tidak diketahui siapa yang memulai. Tetapi Inggris dengan arogan menuduh para pejuang Surabaya yang melakukan tindakan tersebut dan menuntut tanggung jawab.

Mereka terlebih dahulu mengultimatum para pejuang Surabaya untuk menyerahkan senjata yang dirampas para pejuang dari tangan tentara Jepang paling lambat tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi. Namun Bung Tomo atas nama rakyat dan pejuang Surabaya menolak mentah-mentah ultimatum tersebut dengan mengatakan lebih baik mati daripada hidup terjajah.

Lewat batas waktu yang ditentukan, dengan peralatan perang yang modern berupa tank, panser, meriam, pesawat tempur dan kapal perang, Inggris terlebih dulu memborbardir Kota Surabaya tanpa ampun. Kemudian bala Tentara Inggris beserta Pasukan Elit Gurkha dan Pasukan India Divisi ke-23 dengan kekuatan 30.000 personel merangsek masuk ke Kota Surabaya.

Namun dihadapi oleh para pejuang Surabaya dengan gagah berani. Para perwira Inggris memperkirakan pertempuran hanya berlangsung selama tiga hari. Hal itu didasarkan pada kenyataan Inggris memiliki tentara terlatih yang telah dapat menggilas tentara NAZI Jerman dan pasukan elit Hitler, pasukan SS pada perang dunia.

Ditambah lagi Inggris memiliki pasukan elit Gurkha serta mesin perang yang sangat lengkap. Sedangkan para pejuang Surabaya hanya terdiri dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang baru saja dibentuk dan milisi-milisi yang sebagian besar masih menggunakan senjata tradisional seperti bambu runcing, kelewang, golok dan celurit.

Tidak banyak dari mereka yang memiliki senjata api. Namun perkiraan para perwira Inggris sungguh di luar dugaan. Walaupun secara statistik pertempuran ini dikategorikan tidak berimbang, namun Tentara Inggris tidak dengan mudah menguasai Kota Surabaya.

Para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya.

Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris. Setidaknya 6.000 16.000 pejuang dari pihak Indonesia gugur sebagai kesuma bangsa dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya.

Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.

Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban. Pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Dalam rangka memperingati keberanian dan kegigihan para pejuang Surabaya dalam menghadapi bala tentara Inggris yang terwujud pada Hari Pahlawan, para pegawai di Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang mengheningkan cipta.

Tepat pukul 08.15 WIB, Ka. Sub. Bag TU KanKemenag Kota Singkawang, Drs. H. Arnadi, M. Pd memimpin para pegawainya untuk mengheningkan cipta selama 60 detik. Dalam mengheningkan cipta, para pegawai diminta berdoa agar jasa-jasa dan amal bakti para pahlawan Indonesia diterima oleh Sang Pencipta.

Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk tanda terima kasih kepada para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Atas jasa mereka, kita semua dapat hidup menghirup udara merdeka di negeri kita yang tercinta ini (Azis/Hum).