Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari namanya memasak. Di Pondok Al-Adabiy, memasak sudah menjadi kebiasaan   karena memasak bukan hanya perempuan saja tapi  laki-laki diajarkan cara memasak nasi sehingga sudah menjadi turun temurun bahkan banyak santri yang dulunya sering memasak nasi menggunakan rice cooker sekarang  sudah terlatih mandiri guna menghemat listrik yaitu memasak dengan tungku. Ternyata semua santri Al-Adabiy baru pertama kalinya diajarkan cara memasak menggunakan tungku dan bahkan masaknya lebih cepat dibanding rice cooker tadi. 

Minggu, 1 Agustus 2021 Ustadz Muhammad Azman selaku Pimpinan Pondok Asuhan Al-Adabiy sudah mengajarkan  santri cara  memasak  nasi, hal yang pertama yakni harus mengumpulkan banyak kayu sebagai bahan  penghidup apinya.  Dimulai dari memasukan air dan menunggu sekitar 15 menit kemudian memasukan berasnya. Agar tidak gosong Ustadz Muhammad Azman berpesan kepada santri yang piket masak "Ketika masak nasi jangan ditinggalkan dan ditunggu sampai matang" .   Dalam memasak nasi di tungku ini memerlukan 2 sampai 3 orang  dengan saling  bergantian memasak serta membagi tugas nya masing- masing. Diantara 3 orang tersebut ada yang bertugas mengambil kayu dengan jumlah yang diperlukan sebanyak 19 batang untuk kayu apinya, membersihkan dandang, mencuci beras dan menghidupkan apinya di tungkuk.


 Ustadz Muhammad Azman mengingatkan kepada santri yang piket masak untuk memanfaatkan waktu masak sehingga terbiasa dengan disiplin. Waktu yang digunakan untuk memasak nasi di tungku yakni sekitar 2 jam lamanya. Dengan waktu yang diberikan beliau berharap santrinya bisa mengefesiensikan waktu yang telah diberikan. Beliau juga mengatakan," Belajar disiplin dari hal yang terkecil akan menjadikan diri kita terbiasa dengan disiplin-disiplin lainnya dan kedepannya juga dengan disiplin tersebut akan menjadi pengalaman".

Santri Al-Adabiy memasak nasi itu bukan hanya untuk makan sedikit orang tapi seluruh santri bahkan pendamping. Jadi memasak nasi itu  1 hari dua kali masak  diperkirakan 10 kilo beras untuk  pagi nya dan siang nya juga harus masak 10 kilo juga karna terkadang memasak 8 sampai 9 kilo itu kurang cukup untuk santri belum untuk pendamping bahkan  ada yang tidak dapat nasi karna nasi sudah habis. Dengan ini, Ustadz Muhammad Azman mengatakan,"In sya Allah semua santri ketika pulang kampung mereka sudah bisa masak di tungku. Dalam hal ini, beliau sangat bangga kepada santrinya yang terus berusaha belajar masak nasi hingga mereka benar-benar tahu memasak. Kemudian beliau menginginkan para santri selalu menjaga prinsip belajar di pondok yakni, saya bisa, kamu bisa dan kita semua bisa. (Azman Alka)