Dalam waktu beberapa hari lagi jamaah haji asal Kota Singkawang, Kalbar Indonesia dan dunia akan berangkat menuju Arafah di Tanah Suci Mekkah. Kalau tidak ada halangan insya Allah akan berangkat melaksanakan wukuf tanggal 11 September 2016, dan dilanjutkan dengan rangkaian ibadah hingga selesai. Kita berdoa kepada Allah mudah-mudahan jamaah kita diberikan keselamatan, kesehatan dan keamanan dalam perjalanan ibadah hajinya dan mendapatkan haji mabrur.

Haji mabrur, menurut M. Quraish Shihab, ditandai dengan berbekasnya makna simbol-simbol amalan yang dilaksanakan di tanah suci, sehingga makna-makna tersebut terwujud dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari. "Pakaian biasa" ditanggalkan dan "pakaian ihram" dikenakan. Menanggalkan pakaian biasa, kata Quraish Shihab, berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial.

Maka dari itu setiap orang yang menunaikan ibadah haji berharap untuk mendapatkan haji yang mabrur. Apa itu haji mabrur? Tak seorang pun yang mampu memberikan definisi haji mabrur. Orang hanya mampu memberikan sinyal atau tanda-tanda haji mabrur itu. Ada yang mengatakan tanda-tandanya adalah perbuatan dan tingkah lakunya yang lebih baik dari sebelum berhaji. "Rasulullah SAW ketika ditanya tanda-tanda haji mabrur, beliau menjawabnya dengan dua hal yakni memberi makan orang miskin dan menebar salam (menebarkan kedamaian).

Mengenakan pakaian ihram melambangkan persamaan derajat kemanusiaan serta menimbulkan pengaruh psikologis bahwa yang seperti itulah dan dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Tuhan pada saat kematiannya. Bukankah ibadah haji adalah kehadiran memenuhi panggilan Allah? Pertanyaannya, apakah sekembalinya dari tanah suci, masih ada keangkuhan, masih adanya pandangan perbedaan derajat kemanusiaan, masih menindas orang lain? Bila masih ada, maka Anda sesungguhnya masih mengenakan pakaian biasa, belum menanggalkannya.

Wukuf di padang Arafah berarti pengenalan. Yakni dimaksudkan agar para jemaah haji diharapkan mampu mengenal jati dirinya, menyadari kesalahan dan kekeliruannya, serta bertekad untuk tidak mengulanginya dengan taubatan nasuha. Dan yang lebih penting lagi adalah menyadari akan kebesaran dan keagungan Sang Penciptanya. Dilanjutkan pula dengan mabit di muzdalifah dan melontar jumrah atau jamarat di Mina hingga hari-hari Tasyrik baik dengan nafar awal maupun nafar tsani hingga rangkaian ibadah haji selesai.

Bertawaf di sekeliling Kabah merupakan lambang dari wujud dan Keesaan Allah yang melambangkan aktivitas manusia yang tidak pernah terlepas dari-Nya. Kabah bagaikan matahari yang menjadi pusat tata surya dan dikelilingi oleh planet-planetnya. Pertanyaannya, apakah setelah bertawaf, segala aktivitas masih terikat oleh daya tarik Tuhan Yang Maha Esa? Kalau tidak, maka poros haji Anda keluar dari orbitnya. Artinya hajinya belum mencapai maqam haji mabrur.

Melakukan sai adalah lambang dari usaha mencari kehidupan duniawi. Kita tahu, bukankah Hajar (ibu Ismail a.s.) mondar-mandir di sana mencari air untuk puteranya? Pertanyaannya, apakah sepulang dari menunaikan ibadah haji masih akan berpangku tangan menanti turunnya "hujan" dari langit atau akan berusaha dengan segala kemampuan untuk melepaskan "dahaga" kehidupan? Kalau usahanya, ternyata masih berangkat dari kekotoran dan tidak bermuara pada penghargaan dan kemurahan hati, maka tentunya jauh panggang dari api terhadap nilai yang didapat dari ibadah haji tersebut.

Tahallul, (Al-hulqu, yaitu memotong rambut) sebagai isyarat pembersihan, penghapusan cara berfikir yang kotor (negatif). Jemaah haji yang telah menjalankan tahallul mesti harus memiliki cara pikir, konsep kehidupan yang baik, positif, tidak keluar dari etika, aturan maupun ajaran agama. Substansinya adalah ibadah haji diperuntukkan bagi sesama manusia dengan cara selalu menjaga, menghormati, serta saling menjunjung tinggi kemanusiaan. Mengajarkan kepada umat agar senantiasa merubah pikiran, sikap serta perilaku yang lebih bermanfaat untuk sesama.

Ibadah Haji di sebut juga ibadah puncak, ibadah paripurna. Karena disamping kemampuan ekonomi untuk melakukan perjalanan ke sana, juga memerlukan pengetahuan manasik, ketahanan fisik dan kekuatan mental, di medan yang gersang, kering, berdebu, sesak, padat dan berat apabila dibandingkan dengan kondisi di tanah air. Ibadah haji dilaksanakan dalam waktu yang sama dan pada tempat yang sama sebagai muktamar akbar utusan jamaah Islam sedunia.

Sehingga dari semua itu diharapkan akan membawa hal positif bagi kehidupan yaitu bersikap wara', membendung dirinya melakukan yang diharamkan, sikap sabar, dan bersikap baik sesama manusia. Karena itu, bila kita ingin mendapat haji mabrur dengan balasan surga, maka wujudkan kepedulian sosial, dan tebarkan kedamaian di tengah-tengah masyarakat setelah nanti kita kembali ke Tanah Air. *** (ARI/TU, 08/9/16)