SINGKAWANG. Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI) SMP Kota Singkawang menyelenggarakan kegiatan Pesantren Kilat (sanlat) dengan tema Melalui pesantren kilat kita pererat persaudaraan dan kita wujudkan generasi islam yang bertaqwa dan berakhlak mulia yang berlangsung pada Kamis-Jumat,(30/6-01/07) di Pesantren Ushuluddin Singkawang. Kegiatan diikuti sekitar 76 peserta dari dari siswa-siswi SMP se Kota Singkawang.

Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang ketika membuka kegiatan sanlat pada Kamis (30/6) menjelaskan bahwa pelaksanaan pesantren kilat pada Ramadan merupakan hal positif, terutama dalam memberikan bekal pengetahuan agama Islam kepada para peserta didik.

Kegiatan pesantren kilat di bulan suci ramadhan ini, merupakan kegiatan postif yang dilakukan oleh MGMP PAI untuk siswa-siswinya sekaligus untuk memperdalam ilmu agama di bulan suci ramadhan. Sehingga dapat membentengi para pelajar dari segala sisi negative di bulan suci ramadhan, ucapnya.

Pada kesempatan tersebut Jawani mengajak siswa-siswi SMP yang mengikuti pesantren kilat untuk dapat jadi diri sendiri dan tidak perlu meniru-niru budaya ala barat yang tidak sesuai dengan norma-norma budaya bangsa Indonesia. Banyak pelajar/remaja kita saat ini meniru-niru budaya ala barat seperti penindikan kuping, menggunakan tato, seperti gaya anak funk, itu jangan ditiru, harapnya.

Kami dari Kementerian Agama dari tingkat pusat, propinsi, dan tingkat Kota Singkawang akan selalu mendukung kegiatan yang diselenggarakan MGMP PAI SMP di Kota Singkawang, baik itu pendanaan kegiatan dan pembinaan terhadap guru-guru PAI di Kota Singkawang, ucapnya.

Ketua MGMP PAI SMP Kota Singkawang Sukardi dalam laporannya mengatakan bahwa kegiatan pesantren kilat siswa-siswi SMP Kota Singkawang ini diikuti peserta sebanyak 76 orang. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, dengan pembiayaan dari DIPA Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Kalimantan Barat. Sengaja lokasi kegiatannya kita dilaksanakan di pondok pesantren ushuluddin, supaya siswa-siswi SMP di Kota Singkawang juga merasakan tinggal di pondok pesantren, walaupun hanya 2 hari, ucapnya. (Miftah)