Masalah sertifikasi sering menjadi masalah yang sering didiskusikan dan dipertanyakan oleh para guru Agama terutama guru Agama Katolik yang sejak tahun 2015 tidak ada lagi pemberkasan. Para guru sering bertanya mengapa belum ada sertfikasi bagi Guru Agama Katolik. Untuk menjawab pertanyaan itu Kasi Bimas Katolik bekerja sama dengan MGMP PAK Tingkat SMA/SMK menyelenggarakan pertemuan yang bertajuk Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik di Era Digital di Aula Kantor Kemenag Melawi, 19 Agustus 2020. Hadir sebagai narasumber adalah Pastor Dekanat Melawi  Pastor Adiwiratma, Pr yang berbicara tentang Seratus Persen Katolik dan Seratus Persen Indonesia; Pembimas Katolik Drs. Yosef yang berbicara tentang Sertifikasi dan selisihh Tukin dan Apriadi, S.Ag, M.Pd yang berbicara tentang Kompetensi Guru di Era Digital.

Di awal penjelasannya mengenai Sertifikasi dan Juknis pembayaran Selisih TPG dan Tukin, Bapak Pembimas menyampaikan informasi tentang Dirjen yang baru. “Kita sudah mempunyai pimpinan baru yaitu Dirjen Bimas Katolik yaitu  Yohanes Samudra. Beliau adalah Dirjen Bimas Katolik pertama yang berlatar belakang bukan PNS. Harapan kita ialah semoga Bimas Katolik bergerak dan berkembang ke arah lebih baik di masa depan. Harapan lebih baik itu termasuk upaya untuk merealisasikan harapan semua pihak terutama teman-teman guru yang belum mendapatkan tunjangan sertifikasi”harapnya mantap di hadapan para guru yang serius mendengarkan penjelasan beliau.

Lebih lanjut Pak Yosef menjelaskan, “ketika kita bertanya mengapa Bimas Katolik belum melanjutkan program sertifikasi? Tahun terakhir sertifikasi adalah 2015, mengapa teman-teman pada saat itu tidak lolos sertifikasi, apa kendalanya?”tanya Bapak Pembimas kepada para Guru. Para guru pun menjawab; ada yang mengatakan, “karena belum S1; ada yang mengatakan karena masa kerja belum memadai; ada pula yang mengatakan karena jam mengajar kurang dari 24 jam.” “Kalau demikian siapa yang salah? Apakah kesalahan itu ada pada Bimas Katolik? Atau kita juga ikut ambil bagian di dalamnya?”tantang Bapak Pembimas penuh wibawa. “Setelah Tahun 2015 program sertifikasi berubah bentuk dengan system PPG. Lembaga yang bisa menyelenggarakan PPG adalah sebuah lembaga Perguruan Tinggi yang mempunyai akreditasi minimal B. Sementera Perguruan Tinggi di Lingkungan Bimas Katolik belum ada yang berakreditasi B. Itulah kendala kita sampai saat ini.”jelas Pak Yosef di hadapan para guru.