Pontianak 30 Juli 2021 tepatnya hari Jum'at di Aula terbuka Al-Adabiy, semua santri dan pendamping baik laki-laki maupun perempuan dikumpulkan oleh ustadz Muhammad Azman untuk mendengarkan materi pembinaan akhlak terhadap guru dan kiyai. Pembinaan ini dilakukan untuk melatih akhlak santri agar berakhlaqul Karimah (akhlak yg mulia).

Santri diajarkan selalu sopan santun baik terhadap orang tua, tamu, teman dan orang yg lebih muda dari mereka. Seperti biasanya, persiapan perlengkapan dalam menyampaikan materi sudah disiapkan oleh santri. Pendamping piket subuh juga bertanggungjawab jika ada perlengkapan yang kurang. Akhlak yang baik perlu dimiliki seorang santri, dengan itu semuanya akan mengikuti sesuai dengan akhlak baiknya. Hal ini yang membuat Ustadz Muhammad Azman bisa mendirikan pondok dan dapat bertahan mempunyai santri hingga berkembang saat ini.

Ustadz Muhammad Azman juga menegaskan kesuksesan seseorang terletak dari akhlak nya dengan dibantu ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Ilmu akan melekat dengan sendirinya kepada seseorang khususnya santri ketika mondok asalkan akhlaknya baik. Beliau juga memberikan contoh ketika berjalan di depan kyai, bagaimana yang seharusnya di lakukan oleh santri dan pendamping.

Dalam hal ini Ustadz Muhammad Azman sedikit berbagi pengalaman yang beliau lakukan saat belajar kepada guru dengan membelikan bubur setiap pagi kepada guru tersebut, alhamdulillah ilmu yang diberikan sampai saat ini masih melekat dan dapat dibagikan kepada orang lain khusus kepada santri beliau. Selain itu beliau juga menambah ceritanya, Allah mempertemukan beliau dengan guru sejak pendidikan di SMP dulu, di  saat beliau menyampaikan ceramah di depan umum, beliau merasakan adanya ikatan bathin kepada guru yang dilihatnya. Selesai berceramah, beliau langsung bersalaman dan mencium tangan kepada guru tersebut dan para jama'ah heran seketika itu, karena guru itu dianggap orang biasa-biasa saja di tempat itu. Hal ini dilakukan ustaz Muhammad Azman guna memperoleh keberkahan dari guru tersebut, meskipun orang menganggap itu perlakuan yang aneh. 

Dalam pembinaan akhlak tersebut, tetap mematuhi PROKES dengan memakai masker, duduk berjarak dan selesainya mencuci tangan. Keamanan pendamping juga mengarahkan santri untuk mengamankan teman di sampingnya saat pembinaan berlangsung. Pembinaan ini bersifat rutinitas di pondok guna menambah ilmu pengetahuan baik santri maupun pendamping. Ustadz Muhammad Azman selaku Pimpinan Pondok mengatakan," Santri tidak boleh membelakangi kyai atau ustadz, berkata kasar dan kurang sopan serta menyepelekan perintah guru". Berbeda dengan orang-orang di luar sana. Mereka belum mengetahui bagaimana luar biasanya keberkahan yang kita dapatkan dari seorang kiyai atau guru. Tidak menjadi patokan ketika guru kita berprofesi menjadi kuli bangunan dan santrinya menjadi pejabat. Guru tetaplah guru, santri tetaplah selamanya menjadi santri. 

Akhir pembinaan akhlak, Ustadz Muhammad Azman menginginkan semua santri dan pendamping dapat merealisasikan akhlak yang terpuji baik itu di pondok maupun di kalangan masyarakat. Akhlak yang baik tersebut akan menghantarkan kepada keberkahan dalam kehidupan. Dengan demikian bertambahlah keberkahan hidup seseorang, bukan karena ilmunya melainkan dengan akhlak yang diaplikasikan terhadap guru. Banyak orang di luar sana yang hidupnya sukses dengan memperhatikan akhlak terhadap siapapun. Apalagi di dalam pondok, banyak keberkahan yang bisa kita peroleh bahkan itu bisa menjadi pengalaman yang berharga untuk diri sendiri. (Azman Alka)