SAMBAS Penguatan peran Penyuluh Agama Islam non-PNS dirasa sangat perlu ditengah efek negatif dari perkembangan jaman yang begitu dinamis. Permasalahan narkoba, seks bebas, maupun tindakan kriminal bukan hanya menjadi milik kota-kota besar, namun telah pula merambah kota-kota kecil.

Penyuluh diharapkan dapat memperbaiki moralitas di desa binaannya. Karena itu bermula dari desa, tegas Kepala Kantor Kementerian Agama (Ka.Kankemenag) Kab. Sambas H.M. Asmar, S.Pd.I saat membuka acara Pembinaan Penyuluh Agama Islam Non-PNS Tahun 2016, Kamis (11/2) di Hotel Pantura Jaya Sambas.

Lebih lanjut Kakankemenag dalam sambutanya menyampaikan enam pilar yang mesti diperhatikan oleh penyuluh dalam melaksanakan kewajibannya sebagai penyuluh agama Islam non PNS.

Enam pilar itu adalah 1. Luruskan Niat, 2. Tiada Dusta Diantara Kita, 3. Hargai Pendapat Orang Lain, 4. Diam Itu Emas, 5. Hari Ini Lebih Baik Dari Hari Kemarin, Hari Esok Lebih Baik Dari Hari Ini, dan 6. Bukan Pertemuan yang Disesali dan Bukan Pula Perpisahan tetapi Sesalilah Belum Banyak Berbuat Baik untuk Orang Lain.

Setelah Kakankemenag membuka acara, dilanjutkan dengan penyampaian tiga materi oleh materi yang pertama disampaikan oleh Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), H. Hamzah, S.Pd.I. Kasi PHU menyampaikan materi tentang prosedur pendaftaran haji, pembatalan haji dan lima pasti umrah.

Setelah Kasi PHU menyampaikan materinya, dilanjutkan dengan materi dari Penyelenggara Syariah H. Juanda, S.HI. Materi kali ini berkaitan dengan aliran sesat di Indonesia terutama tentang GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara).

Ada dua hal yang perlu untuk diketahui tentang GAFATAR ini. Pertama, GAFATAR ingin membentuk negara sendiri atau negara baru. Kedua, GAFATAR ini menyatukan tiga agama yakni Islam, Yahudi dan Kristen menjadi satu yang mereka namakan Millah Abraham, Juanda mengingatkan kepada peserta dengan mimik serius. Kemudian Juanda juga menjelaskan enam fase penyebaran dari Gafatar.

Pertama, Sirra (Fase Sembunyi-sembunyi); Kedua, Jahran (Terang-terangan); Ketiga. Hijrah; Keempat Qital (Berperang); Kelima Futuh (Kemenangan) dan yang keenam Khilafah. Pada masa Khalifah inilah Ahmad Musyadek diangkat menjadi pemimpin negara sekaligus Nabi penyempurna,tegasnya.

Adapun materi ketiga disampaikan oleh Drs. H. Karlan, Kasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam).Penutupan acara dilakukan oleh Kasi Bimas Islam, setelah acara ditutup dilanjutkan dengan penyampaian teknis pelaporan kegiatan oleh penyuluh non PNS yang disampaikan Dulhadi, S.Sos.I, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kankemenag Kab. Sambas. (rdn)