Gereja Katolik Santa Louisa Menukung adalah sebuah Gereja Paroki yang berada di wilayah Kabupaten Melawi yang memiliki 43 stasi yang dilayani oleh dua orang Pastor Congregatio Missio (CM). Dalam rangka meningkatkan partisiapasi awam dalam kehidupan menggereja paroki ini sejak dulu menyelenggarakan Pertemuan Tahunan Pemimpin Umat atau yang sering disebut dengan PTPU. Pada tanggal 01-03 Maret 2019 Paroki ini menyelenggarakan PTPU yang diikuti oleh 246 peserta dengan narasumber utama Pastor Aloysius Lero,CM Pastor Kepala Paroki Santa Louisa Menukung  dan Gabriel Salim,S.S. Penyuluh Agama Katolik dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Melawi. Pertemuan ini dilaksanakan di Aula Paroki St Louisa Menukung.

Dalam pertemuan yang bertemakan “Gereja adalah Kita” itu Pastor Aloy menjelaskan tentang pengertian Gereja. “Gereja adalah perhimpunan umat beriman yang percaya kepada Allah Tritunggal Maha Kudus. Jadi berbicara mengenai Gereja bukan sekedar bicara mengenai gedung tetapi orang-orang yang percaya. Maka itu berarti Gereja adalah Kita.  Gereja bukan gedung, tetapi Gereja adalah perkumpulan orang-orang yang percaya kepada Allah Tritunggal Maha Kudus. Gereja bukan hanya tanggung jawab para pastor, bruder, frater atau suster, tetapi kita semua yang percaya kepada Allah Tritunggal adalah Gereja. Oleh karena itu maju atau mundurnya Gereja tergantung kepada kita semua termasuk kita yang hadir saat ini,” tegas beliau mantap di hadapan para peserta.

Lebih lanjut Pastor Aloy menjelaskan ciri-ciri Gereja Katolik. “Ciri-ciri  Gereja Katolik adalah SATU, KUDUS, KATOLIK DAN APOSTOLIK. Satu berarti berakar dalam misteri Allah Tritunggal yang tampak dalam Credo (bdk. Ef 4: 4-6); Kudus berarti Gereja menerima kekudusan dari Yesus Kristus sendiri (Yoh 17: 11), Gereja Katolik dijiwai oleh Roh Kudus (EF 2: 21-22) dan Gereja dipanggil pada kekudusan (1Yoh 2: 20);  Katolik berarti universal atau umum, itu berarti Gereja Katolik berlaku untuk semua (Mat 28: 19-20); dan Apostolik berarti Gereja Katolik dibangun atas dasar para Rasul, para Nabi dan Yesus Kristus sebagai Batu Penjuru (Mat 16: 18, Ef 2:20)," jelas beliau yang diselingi dengan menampilkan foto-foto gereja stasi tempat asal para peserta.

Sementara itu Gabriel Salim, S.S. Penyuluh Agama Katolik dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Melawi di awal sesinya, memuji kelihaian panitia penyelenggara dalam memilih tema yang sangat kontekstual dan relevan dengan permasalahan yang dihadapi Gereja terutama Gereja-Gereja Stasi saat ini. “Penyakit yang dialami oleh Gereja Katolik saat ini adalah kekurangpedulian umat dalam mengabil bagian dalam pelayanan Gereja. Pelayanan seola-olah hanya tugas pastor, bruder, frater atau suster. Kaum awam menjadi pasif dan penikmat pelayanan gereja. Tugas pelayanan adalah tugas awam juga, tugas kita semua. Maka marilah kita bahu membahu bekerja sama dalam semangat persaudaraan. Untuk itu kita sebagai awam harus banyak belajar, kita harus tahu betul tentang ajaran Katolik yang baik dan benar. Maka pertemuan seperti ini adalah kesempatan bagi kita untuk belajar dan paham dengan tugas dan tanggung jawab kita sebagai pengurus gereja di tempat kita masing-masing,” ajak Gabriel penuh semangat.

Lebih lanjut Gabriel menegaskan bahwa Awam Katolik harus kuat dan militant. Kita harus mengambil peran dalam pelayanan Gereja. Kita harus trampil dalam memimpin ibadat sabda tanpa imam. Oleh karena itu saya akan melatih Anda sekalian sepanjang hari ini supaya terampil memimpin ibadat.”ajak Gabriel mantap kepada peserta. Kemudian Pak Gabriel menjelaskan Tata Ibadat Perayaan Sabda Tanpa Imam edisi terbaru disertai tata gerak beserta maknanya masing-masing; dilanjutkan dengan peraktek memimpin ibadat secara baik dan benar. Pertemuan yang dibiayai secara swadaya oleh umat ini akhirnya ditutup pada hari ketiga dengan Perayaan Ekaristi. (geby)